4a Jimat dan Pertanda (1)

Saduran ini bersumber dari The Fundamentals of Tawheed karangan Dr. Bilal Philips, bab 4.

Tauhid Rububiyah telah didefiniskan sebagai pengakuan bahwa Allah sebagai pencipta dan pemelihara alam semesta di dalam segala interaksi antara makhluk dengan Allah. Penciptaan, pemeliharaan, dan bahkan penghancuran dari alam semesta berada di dalam perintah Allah, dan semua nasib baik dan juga nasib buruk juga terjadi karena kehendak Allah. Namun, manusia sejak zaman dahulu sampai sekarang terus bertanya: “Apakah ada cara untuk mengetahui nasib baik dan nasib buruk sebelum tiba waktunya?”. Sebab jika hal tersebut sudah diketahui sebelumnya, maka nasib buruk bisa dihindari atau kesuksesan seseorang juga dapat terjamin. Sejak zaman purbakala, beberapa orang tertentu telah melakukan klaim-klaim palsu bahwa mereka mengetahui hal-hal yang tersembunyi. Dan sejak zaman dahulu pula, orang-orang semacam itu memiliki pelanggan yang bersedia membayar sedemikian banyak untuk mendapatkan informasi tentang masa depan. Dan metode-metode untuk mengubah nasib buruk menjadi nasib baik pun telah lama dikenal, yang akhirnya membentuk jimat-jimat yang dapat kita temui di seluruh dunia di seluruh zaman. Selain itu bentuk-bentuk peramalan akan masa depan juga telah menjadi praktik umum, sehingga banyak yang mencoba menghindari kesialan dengan cara tersebut. Dan mereka selalu memberikan klaim bahwa ilmu tersebut tidak dapat dipelajari dan hanya diwariskan turun temurun dalam bentuk ilmu ramalan maupun sihir.  Baca lebih lanjut

3 Perjanjian Allah dan Adam

Saduran ini bersumber dari The Fundamentals of Tawheed karangan Dr. Bilal Philips, bab 3.

Alam Barzakh

Islam tidak mengenal adanya reinkarnasi maupun perpindahan jiwa ke tubuh baru setelah adanya kematian seperti kepercayaan agama Hindu [1]. Orang-orang yang percaya dengan hal ini mengenal doktrin dan prinsip yang dikenal sebagai Karma [2], bahwa amal-amal yang dilakukan seseorang pada kehidupan tersebut akan menentukan status dari orang tersebut pada kehidupan setelahnya, setelah kembali terlahir. Jika amalannya buruk, maka dia akan lahir dari rahim seorang wanita dengan kasta sosial yang lebih rendah dan jika amalannya baik, maka dia akan lahir dari rahim seorang wanita dengan kasta sosial yang lebih tinggi, dan akan terus meningkat hingga dia berada di kasta Brahmana. Apabila tingkatannya telah sempurna, maka reinkarnasi akan berhenti dan jiwanya akan menyatu dengan jiwa dunia, Brahma, dalam sebuah proses yang dikenal sebagai Nirwana.

Menurut Islam, ketika seseorang meninggal di dunia maka dia tidak akan bangkit hingga datangnya Hari Kebangkitan. Setelah kehancuran dunia, seluruh manusia akan bangkit dari kematian untuk mendapat pengadilan dari Allah, satu-satunya sesembahan yang berhak untuk disembah dan juga hakim terbaik dan teradil. Ketika manusia meninggal, sampai hari dia dibangkitkan, dia akan berada di dalam alam Barzakh [3]. Sehingga tidak aneh untuk berpikir bahwa seseorang yang telah meninggal ribuan tahun yang lalu telah menunggu ribuan tahun untuk dibangkitkan, karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa kematian seseorang merupakan awal dari kebangkitannya. Waktu hanya tersedia bagi orang yang hidup di atas bumi. ketika seseorang meninggal, maka dia telah meninggalkan waktu dan ribuan tahun akan menjadi sekejap mata. Allah menggambarkan kenyataan ini dalam sebuah cerita yang disebutkan dalam Al-Baqarah tentang seseorang yang meragukan kemampuan Allah untuk membangkitkan sebuah negeri yang hancur, ataupun membangkitkan seseorang yang telah mati. maka Allah membuatnya mati selama ratusan tahun dan ketika dia dibangkitkan, dia ditanya berapa lama dia “tidur”, dan dia menjawab: Baca lebih lanjut

2b Kategori Syirik (2)

Saduran ini bersumber dari The Fundamentals of Tawheed karangan Dr. Bilal Philips, bab 2.

Syirik dalam Al-Asma’ dan Sifat

Syirik dalam kategori ini termasuk praktek yang umum dilakukan oleh para penyembah berhala dengan cara memberikan Allah nama dan sifat makhluk, ataupun juga sebaliknya, memberikan makhluk nama dan sifat Allah.

1. Syirik dengan Menyerupakan Allah dengan Makhluk

Dalam kelompok syirik ini, Allah diserupakan dengan makhluk (biasanya manusia ataupun hewan) dalam bentuk dan kemampuan. Namun karena manusia dianggap lebih superior dibandingkan hewan, bentuk manusia lebih umum digunakan dalam penyerupaan Allah terhadap makhluk. Sebagai konsekuensinya, gambaran dari Sang Pencipta sering digambarkan ataupun dipahat dalam bentuk kelompok manusia penyembahnya. Contohnya, kaum Hindu dan Budha menyembah para berhala yang berbentuk manusia berkebangsaan Asia dan menganggapnya sebagai perwujudan dari Tuhan mereka. Kaum Nasrani masa kini juga percaya bahwa Nabi Isa adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia, dan ini juga merupakan salah satu contoh dari syirik. Ada begitu banyak pelukis dari kaum Nashrani seperti Michaelangelo (meninggal 1565), yang menggambarkan Tuhan sebagai seorang tua berkebangsaan Eropa dengan rambut dan jenggot putih yang dilukis di Sistine Chapel di Vatikan. Gambar ini dijadikan sebuah panutan tertinggi mengenai gambaran Tuhan  oleh kaum Nashrani.  Baca lebih lanjut

Kaum Mu’minin pun diberi Wewenang untuk Memberi Syafa’at

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَوَالَّذِى نَفْسِي بِيَدِهِ! مَا مِنْ أَحَدٍ مِنْكُمْ بِأَشَدَّ مُنَاشَدَةً للهِ فِى اسْتِضَاءَةِ الْحَقِّ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ للهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لإِخْوَانِهِمُ الَّذِيْنَ فِى النَّارِ. يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! كَانُوْا يَصُوْمُوْنَ مَعَنَا وَيُصَلُّوْنَ وَيَحُجُّوْنَ. فَيُقَالُ لَهُمْ : أَخْرِجُوْا مَنْ عَرَفْتُمْ. فَتُحَـرَّمُ صُـوَرُهُمْ عَـلَى النَّارِ. فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا قَدْ أَخَذَتِ النَّاُر إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ وَإِلَى رُكْبَتَيْهِ. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! مَا بَقِيَ فِيْهَا أَحَدٌ مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ. فَيَقُوْلُ : اِرْجِعُوْا! فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ دِيْنَارٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوْهُ! فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! لَمْ نَذَرْ فِيْهَا أَحَدًا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ. ثُمَّ يَقُوْلُ : اِرْجِعُوْا! فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ نِصْفِ دِيْنَارٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوْهُ! فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! لَمْ نَذَرْ فِيْهَا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا أَحَدًا. ثُمَّ يَقُوْلُ : اِرْجِعُوْا! فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوْهُ! فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا!ْ لَمْ نَذَرْ فِيْهَا خَيْرًا. وَكَانَ أَبُوْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ يَقُوْلُ: إِنْ لَمْ تُصَدِّقُوْنِي بِهَذَا الْحَدِيْثِ فَاقْرَأُوْا إِنْ شِئْتُمْ : (إَنَّ اللهَ لاَيَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِن تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِن لَّدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا) من سورة النساء : 40 – الحديث.- رواه البخاري ومسلم-.

“Demi Allah Yang jiwaku ada di tanganNya. Tidak ada seorangpun diantara kamu yang lebih bersemangat di dalam menyerukan permohonannya kepada Allah untuk mencari cahaya kebenaran, dibandingkan dengan kaum Mu’minin ketika memohonkan permohonannya kepada Allah pada hari Kiamat untuk (menolong) saudara-saudaranya sesama kaum Mu’minin yang berada di dalam Neraka. Baca lebih lanjut

2a Kategori Syirik (1)

Saduran ini bersumber dari The Fundamentals of Tawheed karangan Dr. Bilal Philips, bab 2.

Pembelajaran tauhid tidak akan lengkap tanpa mempelajari kebalikannya, yaitu syirik. Beberapa hal mengenai syirik sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya, menggunakan contoh bagaimana syirik dapat menjadi pembatal tauhid. Namun dalam pembahasan kali ini, syirik akan dibahas dalam pembahasan khusus. Mengetahui tentang syirik sama pentingnya dengan mengetahui tentang tauhid, karena Allah berfirman:

…إِنَّ اللَّـهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, namun Allah akan mengampuni dosa-dosa selain dari itu…” (An-Nisa’ 48)

Dosa dari syirik adalah dosa yang merupakan menolak tujuan utama diciptakannya manusia. Sehingga dosa itu merupakan dosa yang terberat di sisi Allah, dan tidak akan pernah diampuni.

Syirik secara bahasa berarti menyekutukan, membagi, atau mengasosiasikan. Namun secara istilah Islam, syirik berarti sebuah aksi yang dilakukan untuk membuat sekutu bagi Allah dalam bentuk apapun. Penjelasan syirik dalam pembahasan ini akan mengikuti pembahasan tiga kategori tauhid yang telah dijelaskan sebelumnya. Sehingga kita akan membahas mengenai syirik di dalam Rububiyah, kemudian Asma’ dan Sifat, dan terakhir di dalam Ibadah.  Baca lebih lanjut

1c Tauhid al-Ibadah (Tauhid Uluhiyah)

Saduran ini bersumber dari The Fundamentals of Tawheed karangan Dr. Bilal Philips, bab 1.

Walaupun kedua kategori tauhid yang telah disebutkan sebelumnya memiliki dampak yang besar, namun beriman pada kedua kategori tersebut saja tidak cukup untuk memenuhi persyaratan tauhid dalam Islam. Tauhid ar-Rububiyah dan Tauhid Asma’ dan Sifat harus dilengkapi dengan Tauhid al-Ibadah (yang juga dikenal sebagai Tauhid Uluhiyah), supaya tauhid seorang muslim menjadi lengkap. Allah Subhaanahu wa ta’ala telah menjelaskan bahwa kaum musyrikin pada zaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam banyak mengakui aspek-aspek yang ada dalam kedua kategori tauhid yang telah disebutkan sebelumnya. Allah memerintahkan Rasulullah untuk berkata pada para penyembah berhala:

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّـهُ

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.”…” (Yunus 31)

…وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّـهُ

Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan mereka?’, niscaya mereka akan menjawab “Allah”… ” (Az-Zukhruf 87)

…لَئِن سَأَلْتَهُم مَّن نَّزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِن بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّـهُ

Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”…” (Al-Ankabut 63) Baca lebih lanjut

Penyebab Terbebasnya Seseorang dari Api Neraka

Saat Imam Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi, dalam Syarah At-Thahawiyah, membahas salah satu poin pada Al-Aqidah At-Thahawiyah karya Imam Abu Ja’far At-Thahawi, beliau menyebutkan paling tidak ada sepuluh penyebab seseorang dapat terbebas dari api neraka. Penyebab-penyebab tersebut dirangkum dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Poin yang dimaksud adalah:

نَرْجُو لِلْمُحْسِنِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ، وَيُدْخِلَهُمُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ، وَلَا نَأْمَنُ عَلَيْهِمْ، وَلَا نَشْهَدُ لَهُمْ بِالْجَنَّةِ، وَنَسْتَغْفِرُ لِمُسِيئِهِمْ، وَنَخَافُ عَلَيْهِمْ، وَلَا نُقَنِّطُهُمْ.

Kita berharap bagi para muhsinin dari kalangan mukminin agar Allah berkenan mengampuni dosa-dosa mereka dan memasukkan mereka ke Jannah karena rahmat-Nya. Kita tidak merasa aman atas ancaman Allah bagi mereka. Kita tidak memastikan mereka dengan Jannah. Kita memohonkan ampunan bagi pelaku dosa dari mereka dan kita juga takut mereka akan ditimpa siksa karena kejahatan mereka, namun kita tidak berputus asa terhadap rahmat Allah yang dengan itu mereka akan dapat diampuni.

Sebab-sebab dapat dibebaskannya seseorang dari api neraka adalah: Baca lebih lanjut