Arsip Kategori: Ustadz

Nikmat Islam adalah Nikmat Terbesar

Alhamdulillaah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in

Barangkali sebagian dari diri kita telah lama memeluk agama Islam, selama 10 tahun, 20 tahun, atau bahkan 60 tahun lamanya. Namun cobalah untuk bertanya kepada diri sendiri, sudahkan kita merasakan nikmatnya Islam? Barangkali sebagian besar dari diri kita telah mengenal Islam sejak lahir, karena kedua orang tua kita adalah muslim. Sehingga Islam yang kita jalani sehari-hari hanya kita anggap sebagai sesuatu yang kita laksanakan mengikuti agama orang tua kita.

Pernahkah kita merasakan nikmatnya Islam yang telah kita miliki? Pernahkah kita merasakan kenikmatan saat berdoa? Pernahkan kita merasakan kenikmatan saat sholat malam? Apakah Islam telah menjadi sesuatu yang biasa saja dari diri kita, seolah hal itu bukan merupakan suatu hal  yang berharga?

Ketahuilah saudaraku, bahwa Islam yang kita miliki saat ini adalah nikmat yang sangat besar dan sangat mahal. Sebutkanlah kenikmatan duniawi yang paling besar dari yang kita ketahui, maka kenikmatan tersebut tidak akan pernah menandingi besarnya kenikmatan Islam. Ada beberapa alasan mengapa nikmat Islam adalah nikmat yang paling besar, yaitu: Baca lebih lanjut

Nikmat Allah selain Harta

Alhamdulillaah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in

Barangkali sebagian dari kita berpikir bahwa harta adalah nikmat Allah yang sanget besar, bahkan nikmat yang terbesar. Manusia sering terpesona dengan kemilau harta, yang seolah menjadi lambang kenikmatan dunia. Rumah yang megah, kendaraan yang mewah, dan uang yang melimpah menjadi hal-hal yang dikejar dalam hidup sebagian besar manusia.

Namun pernahkah kita berpikir, bahwa ada banyak nikmat yang jauh lebih berharga dibandingkan harta? Hal-hal yang sebetulnya kita miliki bersama kita, namun kita tidak bersyukur atasnya? Tentu saja, manusia diizinkan untuk mencari dan mengumpulkan harta, dan jika mereka menggunakannya di jalan Allah, maka hal tersebut akan bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Namun menjadikan harta sebagai satu-satunya tujuan dunia? Dan hanya mengucap syukur ketika mendapat kelebihan harta dan selalu menggerutu ketika mengalami kekurangan harta?

Semoga kita termasuk hamba Allah yang senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan kepada kita, baik itu harta maupun yang selain harta. Baca lebih lanjut

10 Hal yang Tidak Mendatangkan Manfaat

Dikutip dari kitab Al-Fawaid Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah.

1. Ilmu yang tidak diamalkan

Kita harus menuntut ilmu untuk diamalkan, karena nantinya kita akan ditanya untuk apa ilmu yang kita miliki diamalkan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

Tidak akan bergerak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga dia ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, dan tentang ilmunya; apa yang telah dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia belanjakan, dan ditanya tentang jasadnya; untuk apa dia gunakan

Semakin kita menuntut ilmu, maka iman kita akan bertambah. Begitu pula akhlak terhadap orangtua dan guru. Sholat kita pun akan bertambah baik.  Baca lebih lanjut

Bencana…!! Banyak Berilmu Namun Tanpa Amal

Bencana…!! banyak berilmu namun tanpa amal

(dikutip dari buku : DARI MADINAH HINGGA KE RADIORODJA

(Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhahullah)

Oleh: Abu Abdil Muhsin Firanda

Mengenai Syaikh Abdurrozzaq, sebagaimana pengakuan sebagian teman yang pernah dekat dengan beliau, bahwasanya beliau bukanlah orang yang paling ‘alim di kota Madinah, bahkan bukan pula orang yang paling ‘alim di Universitas Islam Madinah, karena pada kenyataannya masih banyak ulama lain lebih unggul daripada beliau dari sisi keilmuan. Akan tetapi yang menjadikan beliau istimewa di hati para mahasiswa adalah perhatian beliau terhadap amal, takwa, dan akhlak. Hal ini tidak mengherankan karena seringkali wejangan-wejangan beliau tentang perhatian pada mengamalkan ilmu.

Selama kurang lebih 9 tahun, beliau mengajar sebuah kitab tentang adab karya Imam Al-Bukhari yang berjudul Al-Adab Al-Mufrad di masjid Universitas Islam Madinah, setiap hari Kamis setelah shalat Shubuh. Selama tiga tahun beliau mengajar kitab yang sama di Masjid Nabawi. Ini semua menunjukkan perhatian beliau terhadap adab dan akhlak mulia. Bahkan, saat beliau mengisi di Radiorodja dan waktu itu tidak ada materi yang siap untuk disampaikan, serta kebetulan salah seorang pembawa acara ingin ada pengajian khusus tentang tanya jawab dengan diberi sedikit mukadimah, maka beliau langsung setuju, dan mukadimah yang beliau bawakan adalah tentang pentingnya mengamalkan ilmu.
Baca lebih lanjut

Kaidah Manfaat dan Mafsadat

الشَارِعُ لَا يَأْمُرُ إِلَّا بِمَا مَصْلَحَتُهُ خَالِصَةٌ أَوْ رَاجِحَةٌ

وَلَا يَنْهَى إِلَّا عَمَّا مَفْسَدَتُهُ خَالِصَةٌ أَوْ رَاجِحَةٌ

Syari’at tidak memerintahkan kecuali sebuah kemaslahatan murni atau yang rojih
Dan tidak melarang kecuali yang murni sebuah mafsadat atau yang rojih

Makna Kaidah

Asy-Syari’ adalah pembuat syari’at, yaitu Alloh, baik langsung dari al-Qur‘an ataupun lewat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dalam sunnah beliau. Karena sunnah beliau pun pada dasarnya adalah wahyu dari Alloh. Sebagaimana firman-Nya:

Dan tiadalah yang dia (Muhammad) ucapkan itu (al-Qur‘an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. an-Najm [53]: 3-4)

Baca lebih lanjut