Arsip Kategori: Tazkiyatun Nufs

Nikmat Allah selain Harta

Alhamdulillaah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in

Barangkali sebagian dari kita berpikir bahwa harta adalah nikmat Allah yang sanget besar, bahkan nikmat yang terbesar. Manusia sering terpesona dengan kemilau harta, yang seolah menjadi lambang kenikmatan dunia. Rumah yang megah, kendaraan yang mewah, dan uang yang melimpah menjadi hal-hal yang dikejar dalam hidup sebagian besar manusia.

Namun pernahkah kita berpikir, bahwa ada banyak nikmat yang jauh lebih berharga dibandingkan harta? Hal-hal yang sebetulnya kita miliki bersama kita, namun kita tidak bersyukur atasnya? Tentu saja, manusia diizinkan untuk mencari dan mengumpulkan harta, dan jika mereka menggunakannya di jalan Allah, maka hal tersebut akan bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Namun menjadikan harta sebagai satu-satunya tujuan dunia? Dan hanya mengucap syukur ketika mendapat kelebihan harta dan selalu menggerutu ketika mengalami kekurangan harta?

Semoga kita termasuk hamba Allah yang senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan kepada kita, baik itu harta maupun yang selain harta. Baca lebih lanjut

10 Hal yang Tidak Mendatangkan Manfaat

Dikutip dari kitab Al-Fawaid Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah.

1. Ilmu yang tidak diamalkan

Kita harus menuntut ilmu untuk diamalkan, karena nantinya kita akan ditanya untuk apa ilmu yang kita miliki diamalkan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

Tidak akan bergerak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga dia ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, dan tentang ilmunya; apa yang telah dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia belanjakan, dan ditanya tentang jasadnya; untuk apa dia gunakan

Semakin kita menuntut ilmu, maka iman kita akan bertambah. Begitu pula akhlak terhadap orangtua dan guru. Sholat kita pun akan bertambah baik.  Baca lebih lanjut

Kaum Mu’minin pun diberi Wewenang untuk Memberi Syafa’at

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَوَالَّذِى نَفْسِي بِيَدِهِ! مَا مِنْ أَحَدٍ مِنْكُمْ بِأَشَدَّ مُنَاشَدَةً للهِ فِى اسْتِضَاءَةِ الْحَقِّ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ للهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لإِخْوَانِهِمُ الَّذِيْنَ فِى النَّارِ. يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! كَانُوْا يَصُوْمُوْنَ مَعَنَا وَيُصَلُّوْنَ وَيَحُجُّوْنَ. فَيُقَالُ لَهُمْ : أَخْرِجُوْا مَنْ عَرَفْتُمْ. فَتُحَـرَّمُ صُـوَرُهُمْ عَـلَى النَّارِ. فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا قَدْ أَخَذَتِ النَّاُر إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ وَإِلَى رُكْبَتَيْهِ. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! مَا بَقِيَ فِيْهَا أَحَدٌ مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ. فَيَقُوْلُ : اِرْجِعُوْا! فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ دِيْنَارٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوْهُ! فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! لَمْ نَذَرْ فِيْهَا أَحَدًا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ. ثُمَّ يَقُوْلُ : اِرْجِعُوْا! فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ نِصْفِ دِيْنَارٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوْهُ! فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! لَمْ نَذَرْ فِيْهَا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا أَحَدًا. ثُمَّ يَقُوْلُ : اِرْجِعُوْا! فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوْهُ! فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا!ْ لَمْ نَذَرْ فِيْهَا خَيْرًا. وَكَانَ أَبُوْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ يَقُوْلُ: إِنْ لَمْ تُصَدِّقُوْنِي بِهَذَا الْحَدِيْثِ فَاقْرَأُوْا إِنْ شِئْتُمْ : (إَنَّ اللهَ لاَيَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِن تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِن لَّدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا) من سورة النساء : 40 – الحديث.- رواه البخاري ومسلم-.

“Demi Allah Yang jiwaku ada di tanganNya. Tidak ada seorangpun diantara kamu yang lebih bersemangat di dalam menyerukan permohonannya kepada Allah untuk mencari cahaya kebenaran, dibandingkan dengan kaum Mu’minin ketika memohonkan permohonannya kepada Allah pada hari Kiamat untuk (menolong) saudara-saudaranya sesama kaum Mu’minin yang berada di dalam Neraka. Baca lebih lanjut

Momen Lebaran, Kesempatan Mempraktekan Akhlak Karimah

Saling mengunjungi antar-kerabat, antar-tetangga dan teman baik menjadi aktifitas yang rutin dilakukan ketika lebaran. Pada tulisan terdahulu, telah dijelaskan bahwa aktifitas ini dibolehkan dalam syari’at bahkan merupakan perbuatan yang memiliki landasan dalil.

Dengan aktifitas ini, anggota keluarga dan kerabat pun saling bertemu atau bahkan berkumpul di satu tempat. Para tetangga pun saling berjumpa satu sama lain, juga dengan teman-teman yang dikenal. Berangkat dari semua ini, momen lebaran tentunya menjadi kesempatan tersendiri bagi seorang muslim untuk mempraktekan akhlak karimah, tentunya tanpa harus melanggar aturan syari’at.

Terlebih lagi bagi para penuntut ilmu agama dan orang-orang yang berpegang teguh pada sunnah RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam, momen ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa anda berpegang teguh pada sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bukan hanya dalam aqidah dan ibadah namun juga dalam akhlak, dan akhlak mulia adalah hasil dari pelajaran tauhid yang anda terapkan.

Baca lebih lanjut

Pujian dalam Hujatan

Ketika aku putuskan untuk beramal sesuai AlQuran & Sunnah dengan faham As Salafush Shaleh, Akupun dipanggil Wahabi
Ketika aku minta segala hajatku hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’ala tidak kepada Nabi & Wali .… Akupun dituduh Wahabi

Ketika aku meyakini Alquran itu kalam Ilahi, bukan makhluq …. Akupun diklaim sebagai Wahabi
Ketika aku takut mengkafirkan dan memberontak penguasa yang dzalim, Akupun dipasangi platform Wahabi

Ketika aku tidak lagi shalat, ngaji serta ngais berkah di makam-makam keramat… Akupun dijuluki Wahabi
Ketika aku putuskan keluar dari tarekat sekte sufi yang berani menjaminku masuk surga… Akupun diembel-embeli Wahabi
Baca lebih lanjut

Bersyukur (Hikmah Perjalanan Hidup Abdullah bin Umar Bani’mah)

Setiap orang akan mendapat ujian dalam kehidupannya. Suatu ketika manusia diuji dengan harta melimpah dan kenikmatan dunia yang sangat menggiurkan. Mereka pada umumnya cenderung lupa diri dan lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, ketika manusia diuji dengan musibah, pada umumnya hatinya mudah tergerak untuk memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kembali ke jalan Allah.

Walau begitu tidak sedikit manusia yang karena sangat kuatnya keinginan untuk melepaskan diri dari musibah, apalagi bila musibah itu sangat berat, tidak sabar menderita, lalu mengambil jalan pintas dengan cara meminta pertolongan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan masuklah mereka ke dunia syirik atau bahkan melepaskan akidah Islamnya.

Musibah adalah kasih sayang Allah, agar manusia tidak terus terjerumus ke jalan yang sesat, agar ingat kepada-Nya dan kembali ke jalan-Nya, agar memperoleh kebahagiaan sejati dunia sampai ke akhirat.

Baca lebih lanjut

Keadaan Wanita di Surga

Oleh: Sulaiman ibn Shalih al Kharasyi

Sesungguhnya surga dan kenikmatannya tidaklah khusus bagi kaum laki-laki saja, akan tetapi surga itu: “Disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran:133) dari dua jenis makhluk manusia; laki-laki dan perempuan, sebagaimana Allah Ta’ala telah mengabarkan yang demikian.

وَمَن يَعۡمَلۡ مِنَ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ مِن ذَڪَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٌ۬ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga.” (QS. an Nisa’:124)

Baca lebih lanjut