Arsip Kategori: life-sharing

just read it.. share it..

Nikmat Allah selain Harta

Alhamdulillaah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in

Barangkali sebagian dari kita berpikir bahwa harta adalah nikmat Allah yang sanget besar, bahkan nikmat yang terbesar. Manusia sering terpesona dengan kemilau harta, yang seolah menjadi lambang kenikmatan dunia. Rumah yang megah, kendaraan yang mewah, dan uang yang melimpah menjadi hal-hal yang dikejar dalam hidup sebagian besar manusia.

Namun pernahkah kita berpikir, bahwa ada banyak nikmat yang jauh lebih berharga dibandingkan harta? Hal-hal yang sebetulnya kita miliki bersama kita, namun kita tidak bersyukur atasnya? Tentu saja, manusia diizinkan untuk mencari dan mengumpulkan harta, dan jika mereka menggunakannya di jalan Allah, maka hal tersebut akan bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Namun menjadikan harta sebagai satu-satunya tujuan dunia? Dan hanya mengucap syukur ketika mendapat kelebihan harta dan selalu menggerutu ketika mengalami kekurangan harta?

Semoga kita termasuk hamba Allah yang senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan kepada kita, baik itu harta maupun yang selain harta. Baca lebih lanjut

Iklan

Kuliah di Islamic Online University

Segala puji bagi Allah Subhaanahu wa Ta’ala,  yang telah memberikan kepada kita nikmat berupa Islam sebagai jalan  hidup yang sempurna sebagai tuntunan hidup seluruh umat manusia. Hidayah hanyalah milik Allah Subhaanahu Wa Ta’ala semata. Dan ada begitu banyak cara bagi seseorang yang diberikan nikmat yang sangat mahal ini. Dari cara yang wajar (dididik sejak kanak-kanak dengan baik) sampai dengan cara yang mungkin terlihat tidak wajar.

Alhamdulillah, saya juga mendapatkan kesempatan untuk menikmati hidayah ini dengan izin Allah. Dengan cara yang barangkali unik juga, karena hidayah tersebut menyapa di tengah tugas studi di negeri kafir. Dan segala hambatan dan tantangan yang dihadapi untuk hijrah ke manhaj yang haq ini justru membuat semuanya bertambah manis.

Qadarullah, karena kondisi di keluarga, saya belum bisa langsung menimba ilmu dari majelis-majelis ilmu. Padahal sebaik-baik cara untuk menuntut ilmu adalah hadir langsung di majelis ilmu. Keutamaannya sangat besar dan para malaikat pun menaunginya. Namun sekali lagi, tidak -atau belum- semua orang memiliki kesempatan tersebut, termasuk juga saya saat ini. Alhamdulillah, Allah memberikan salah satu jalan, yaitu dengan cara kuliah agama secara online.
Baca lebih lanjut

Masalah Hisab dan Ru’yah

Alhamdulillaahirobbil ‘aalamiin.

Telah beberapa hari berlalu sejak ‘Idul Fithri. Hari yang sudah saya alami lebih dari dua puluh kali sejak lahir dengan berbagai macam perbedaan suasana. Secara bahasa, ‘Id ialah sesuatu yang kembali dan berulang-ulang. Sesuatu yang biasa datang dan kembali dari satu tempat atau waktu [1]. Ibnu Manzhur dalam Lisan al-Arab membawakan perkataan Ibu al-A’rabiy : “Hari Raya (‘Id) dinamakan ‘Id, karena hari itu selalu berulang setiap tahun dengan kegembiraan yang selalu baru” [2].

Namun entah mengapa, menurut perasaan saya, akhir-akhir ini unsur kegembiraan merayakan hari tersebut serasa berkurang. Setiap saat mendekati ‘Id (baik Adha maupun Fithri), ada sedikit unsur ketegangan. Sidang isbat yang diadakan MUI menjadi ajang tontonan dan juga sumber perdebatan yang tidak ada ujungnya. Di lain pihak, Muhammadiyah (yang menggunakan hisab) sudah menentukan ‘Id jauh sebelum sidang isbat. Terkadang ada sentilan sampai hujatan yang saling menyalahkan antara pendukung kedua pihak (hisab versus ru’yah). Baca lebih lanjut