Saudaraku, Tinggalkanlah Musik..

Alhamdulillaah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in

Musik merupakan salah satu hal yang sangat dekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Di zaman ini, ke manapun kita melangkah -terminal, stasiun, pertokoan, kampus-, kita akan dengan mudah mendengarkan alunan musik yang diputar dari berbagai penjuru. Kita pun akan dengan mudah melihat banyak orang mendengarkan musik di dalam kendaraan mereka. Bahkan sambil berjalan kaki-pun, banyak orang mendengarkan musik melalui headset mereka. Ketika kita menyalakan media-media, seperti televisi dan radio, musik pun seolah-olah mendominasi acara mereka. Seolah musik adalah kebutuhan, di mana seseorang tidak akan bisa hidup tanpanya.

Dengan begitu luasnya persebaran musik di dunia ini, apakah musik menjadi sesuatu yang dapat diremehkan? Jawabannya tidak. Begitu kita menganggap musik adalah sesuatu yang sederhana, tidak bermasalah,  dan tidak akan mempengaruhi kehidupan kita, maka kita telah terjatuh ke dalam tipuan Iblis.

Musik akan mempengaruhi kehidupan kita, baik di dunia maupun akhirat!

Bagaimana mungkin musik dapat mempengaruhi kehidupan dunia kita?

Saya tidak akan mengambil contoh yang terlalu jauh. Saya cukup bercerita mengenai pengalaman hidup saya sendiri. Saya termasuk seseorang yang tumbuh dan besar dengan musik. Musik sangat dekat dengan kehidupan saya sendiri. Keluarga saya, termasuk orang tua dan kakek-nenek saya, merupakan seseorang yang sangat mencintai musik. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kami semua dan mengampuni dosa-dosa kami semuanya.

Tumbuh di keluarga dengan latar belakang demikian, maka sebagaimana tipikal anak-anak masa kini, saya menghabiskan masa kecil saya dengan mengikuti berbagai macam kursus musik. Di masa taman kanak-kanak, saya sudah belajar bernyanyi, tergabung dalam ensemble musik dan juga drum band. Sebagian besar waktu di kehidupan Sekolah Dasar saya juga dihabiskan untuk berlatih dan mengikuti kursus piano. Piano warisan kakek saya merupakan teman kehidupan saya kala itu. Bahkan saya menang dalam beberapa kejuaraan piano di tingkat propinsi.

Menginjak remaja, saya menghabiskan waktu SMP saya dengan kursus gitar klasik dan drum. Saya sudah mulai membentuk band dan mulai mengaransemen lagu, baik untuk kelompok band saya maupun untuk ensemble musik. Dan di saat SMA dan kuliah, saya ikut kursus gitar listrik, dan hal tersebut membuat saya semakin terbius dalam kegiatan band, sampai-sampai saya ikut mengambil bagian di berbagai macam festival musik tingkat regional maupun nasional.

Koleksi media dan alat musik saya pun jangan ditanya. Berbagai macam kaset dan CD musik -dan karena idealisme saya, saya hanya membeli yang tidak bajakan-. Dan juga berbagai perangkat gitar listrik, keyboard, dan juga gitar klasik yang telah saya beli menggunakan tabungan saya.

Lihatlah betapa banyak waktu, tenaga, dan harta yang telah saya curahkan kepada musik. Dan jika saya ditanya, apakah saya bahagia dengan kehidupan tersebut? Jawabnya, tidak. Sering hati saya terasa hampa dan kosong. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya yang telah saya perbuat di masa lalu.

Alhamdulillah, Allah membuka hati saya melalui berbagai macam kajian yang saya ikuti. Dan saya pun mulai meninggalkan musik -semoga dapat saya tinggalkan sampai akhir hayat-. Seluruh media musik saya buang dan bakar. Saya jauhi seluruh media dan acara-acara musik, dan Alhamdulillah, dengan bantuan Allah, saya masih dapat menjalaninya dengan baik.

Dan Allah memberikan ganti yang lebih baik. Setelah mengenal agama ini, saya berusaha untuk menambah hafalan Al-Qur’an satu ayat demi satu ayat. Dan berusaha untuk mengulang-ulangnya. Membaca dan menghafalkan Al-Qur’an, jika dilakukan dengan baik, hal tersebut akan dapat mendatangkan ketenteraman hati.

Namun apakah ini akhirnya? Ternyata tidak. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنما مَثَلُ صاحبِ القرآنِ كمثلِ الإبلِ المعَقَّلَةِ . إن عاهد عليها أمسكَها . وإن أطلقها ذهبَت

Permisalan Shahibul Qur’an itu seperti unta yang diikat. Jika ia diikat, maka ia akan menetap. Namun jika ikatannya dilepaskan, maka ia akan pergi” (HR. Muslim, diambil dari sini)

Sehingga Al-Qur’an harus dibaca dan dipelajari terus-menerus dan diulang-ulang supaya bacaan dan maknanya dapat meresap di hati. Dan terkadang futur melanda, sehingga bacaan yang telah kita hafal juga dapat hilang karena kemalasan tersebut.

Namun bagaimana dengan musik? Ternyata bekerja sebaliknya. Walaupun kita telah lama meninggalkan musik, ternyata syair dan nada itu masih lekat di dalam ingatan kita. Hal ini menunjukkan betapa mengerikannya musik.

Dan hal itupun terjadi pada saya. Walaupun saya telah lama meninggalkan musik, namun jika secara tidak sengaja saya mendengar alunan lagu yang dulu pernah saya kenal, maka dalam ingatan akan terlintas nada dan syair berikutnya. Bahkan saya juga akan memikirkan kunci dan harmoni yang bisa digunakan dalam lagu tersebut. Dan yang lebih mengerikan, saat saya kecil, saya pernah menguasai suatu lagu dalam Bahasa Jepang di sana. Dan lagu tersebut sudah lebih dari 20 tahun tidak saya dengar. Namun ketika lagu tersebut secara tidak sengaja saya dengar, saya masih ingat secara jelas nada dan liriknya!

Sehingga terlihat, betapa kita memerlukan bantuan Allah supaya hati kita diteguhkan dalam agama-Nya. Kita harus memiliki tekad yang kuat dan juga senantiasa memohon pertolongan Allah dalam meninggalkan musik. Dan semoga kita termasuk golongan orang-orang yang selalu menyibukkan diri dengan Al-Qur’an.

Dan bagaimana mungkin musik akan mempengaruhi kehidupan akhirat kita?

Kutipan yang sangat jelas ini merupakan kutipan dari pembahasan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di sini. “Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah padanya dengan azab yang pedih.” (QS. Luqman: 6-7)

Ibnu Jarir Ath Thabariy -rahimahullah- dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa para pakar tafsir berselisih pendapat apa yang dimaksud dengan لَهْوَ الْحَدِيثِlahwal hadits” dalam ayat tersebut. Sebagian mereka mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah nyanyian dan mendengarkannya. Lalu setelah itu Ibnu Jarirmenyebutkan beberapa perkataan ulama salaf mengenai tafsir ayat tersebut. Di antaranya adalah dari Abu Ash Shobaa’ Al Bakrirahimahullah-. Beliau mengatakan bahwa dia mendengar Ibnu Mas’ud ditanya mengenai tafsir ayat tersebut, lantas beliau –radhiyallahu ‘anhu– berkata,

الغِنَاءُ، وَالَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ، يُرَدِّدُهَا ثَلاَث َمَرَّاتٍ.

Yang dimaksud adalah nyanyian, demi Dzat yang tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi selain Dia.” Beliau menyebutkan makna tersebut sebanyak tiga kali.” Kutipan selesai.

Selain itu, kita juga harus mendengarkan apa perkataan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, seseorang yang diutus Allah untuk menyampaikan seluruh perkara dalam agama ini:

عن أبي عامر الأشعري سمع النبي صلى الله عليه وسلم يقول : ((ليكوننّ من أمتي أقوام يَستَحِلُونَ الحِرَّ والحَريرَ والخمْرَ والمَعَازف)).

Dari Abu ‘Aamir Al-Asy’ariy, ia mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :Akan ada di kalangan umatku suatu kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, alat musik (al-ma’aazif)”.

Artinya seluruh hal yang disebutkan dalam hadits tersebut haram, walaupun nantinya  (sekarang?) banyak yang menghalalkannya. Banyak yang mempermasalahkan status dari hadits ini, namun kita dapat melihat takhrij yang dilakukan oleh Ustadz Abul Jauzaa’ di sini.

Perkara dan larangannya sangat jelas. Kita tidak perlu mencari-cari penafsiran lain dengan berputar-putar, karena kita dapat memahami maknanya secara zahir dalil, tanpa perlu mencari makna lainnya. Dan insya Allah inilah makna yang rojih, yang kuat, bahwa musik itu haram. 

Sehingga jika kita meninggalkan musik karena kita mengetahui bahwa hal itu termasuk larangan Allah dan Rasul-Nya, dan kita hanya mengharapkan ridho Allah dengan meninggalkannya, maka kita dapat berharap bahwa itu akan memperbaiki kehidupan akhirat kita. Namun jika kita terus berkubang dalam lumpur musik ketika kita telah mengetahui larangan tersebut, maka sama saja kita menantang syariat yang diturunkan oleh Allah. Dan apa balasan yang layak bagi orang-orang seperti itu? Semoga Allah melindungi kita dari sikap semacam itu dan senantiasa memberikan kita semua petunjuk kepada jalan yang lurus.

Sehingga telah jelas, bahwa sudah selayaknya kita meninggalkan musik saat ini juga.  Jika Allah telah melarang sesuatu, pasti di dalam hal tersebut ada sesuatu yang berbahaya bagi kita, baik bahaya tersebut murni ataupun mayoritas. Sebagai orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, sudah sepantasnya bagi kita untuk menjauhkan diri dari segala larangan Allah.

Dan saya pun sudah membuktikan sendiri bahwa musik sama sekali tidak memiliki manfaat dalam hidup kita. Musik menjadikan hati ini hampa dan kosong. Jangan percaya perkataan bahwa musik dapat membuat hati bahagia dan menenteramkan hati. Lihatlah orang-orang yang datang ke berbagai macam konser musik. Justru mereka tampak seperti orang yang kehilangan kesadarannya.

Dan benarlah perkataan Dr. Bilal Philips:Jika benar musik itu dapat membuat hati bahagia, maka orang  yang paling bahagia di dunia ini adalah para musisi. ” Namun yang kita lihat hari ini? Betapa banyak musisi yang justru mengalami tekanan dalam hidupnya. Dan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya terlibat dalam seks bebas, narkoba, bahkan sampai bunuh diri.

Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk dan kekuatan bagi kita semua untuk meninggalkan musik.

Wallaahul Waliyyut Taufiq

Skudai, 8-10-2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s