Adakah Bid’ah Hasanah?

Alhamdulillaah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in

Kata Bid’ah seolah telah menjadi kata yang menakutkan di kalangan sebagian kaum muslimin. Kata tersebut seolah menjadi tuduhan terhadap sebagian amalan yang mereka lakukan, dan suatu vonis bahwa mereka akan masuk neraka. Padahal tidaklah demikian, kata bid’ah adalah salah satu kata dalam bahasa Arab dan juga istilah syar’i yang digunakan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah memerintah kita untuk meninggalkan bid’ah dalam khutbah hajahnya:

أَمَّا بَعْدُ:

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Amma ba’du:

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (as-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

Penjelasan lengkap mengenai khutbah ini bisa dilihat di sini.

Secara bahasa, bid’ah adalah setiap perkara baru yang diadakan atau diciptakan tanpa adanya contoh asal dan juga tidak ada penyusun sebelumnya. Hal ini telah dikenal dengan baik oleh pengguna bahasa Arab.

Namun harus kita ketahui, dalam Islam, sebuah katadalam Bahasa Arab harus dimaknai secara bahasa dan secara istilah, dilihat dari konteks penggunaannya. Kata bid’ah ini juga memiliki makna secara istilah. Salah satu pengertian bid’ah secara istilah adalah:

طريقة في الدين مخترعة، تضاهي الشرعية، يقصد بالسلوك عليها ما يقصد بالطريقة الشرعية

Suatu jalan yang dibuat dan disandarkan kepada agama, sehingga menyerupai syariah, yang dilaksanakan dengan maksud untuk menjadikannya sebagai bagian dari agama (syariat)” (Lihat Al-I’tishom tulisan Imam As-Syathibi).

Sehingga harus dipahami bahwa bid’ah yang kita gunakan dalam pembahasan ini adalah makna bid’ah secara istilah.

Salah satu alasan mengapa bid’ah tersebar dalam agama Islam yang mulia ini adalah karena adanya keyakinan bahwa bid’ah terbagi menjadi dua, yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah (bid’ah yang baik dan bid’ah yang buruk). Ada begitu banyak ulama besar yang menulis tentang pembagian bid’ah semacam ini, termasuk ulama-ulama yang menentang keras adanya bid’ah dalam agama. Namun apakah betul pembagian bid’ah semacam itu ada dasarnya?

Berikut ini adalah sebagian dari sekian banyak bukti bahwa semua bid’ah itu adalah sesat (sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam):

1. Islam adalah agama yang telah sempurna. Manusia hanya mendengarkan, taat, dan melaksanakan syariatnya. 

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” (Al-Maa-idah: 3)

Sehingga dapat kita katakan bahwa bid’ah manapun dalam agama, maka termasuk revisi terhadap agama itu sendiri. Dan sama saja menganggap Islam belum sempurna. Dan sebagai seorang muslim kita harus meyakini bahwa Allah telah menyempurnakan agama ini sebelum mencabut nyawa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dan ayat ini adalah bukti nyata paling awal untuk menentang ahli bid’ah.

2. Rasulullah pasti telah Menyampaikan Risalah

Imam At-Thabrani dalam Mu’jam Kabirnya menjelaskan bahwa setiap hal yang telah mendekatkan ke surga dan menjauhkan ke neraka pasti sudah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dan Imam Malik juga mengatakan bahwa jika seorang menganggap baik suatu perbuatan bid’ah, sama saja telah menuduh Rasulullah mengkhianati risalah untuk menyampaikan agama ini.

Padahal kita harus meyakini bahwa Rasulullah telah menyampaikan seluruh risalah yang dibebankan kepada beliau oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Beliau sangat berhati-hati dan takut jika beliau belum menyampaikan risalah ini sebagaimana sabda beliau kepada para sahabat:

“”Ketika kalian ditanya tentang aku, apa yang kalian katakan?”

Mereka menjawab, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, telah melaksanakan dan telah menasehati.” Lalu beliau berkata sambil memberi isyarat dengan jari telunjuknya yang diacungkan ke langit lalu diturunkan kembali mengarah kepada mereka, ” Ya Allah, saksikanlah, ya Allah saksikanlah. Ya Allah saksikanlah” demikian yang beliau ucapkan.” (Lihat Sahih Bukhari dalam kitab Al’Ilm)

Lihatlah kehati-hatian beliau, dan masihkan kita akan menuduh beliau mengkhianati risalah?

3. Hak pensyariatan Merupakan Hak Allah

Ahlul bid’ah, ketika menciptakan suatu amalan baru, maka sama saja dia telah melakukan pensyariatan. Padahal pensyariatan merupakan hak yang hanya dimiliki oleh Allah. Dan Allah telah mengingatkan di dalam Al-Qur’an:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepada-mu agar kamu bertaqwa.” (Al-An’aam: 153)

Imam Mujaahid Rahimahullah, ketika melakukan tafsir terhadap وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ, maka beliau mengatakan bahwa jalan-jalan yang dimaksud adalah bid’ah dan syubhat.

4. Ibtida’ (melakukan bid’ah) adalah Mengikuti Hawa Nafsu

Pada dasarnya, ketika seseorang mengamalkan bid’ah, dia sama saja telah mengikuti hawa nafsunya. Karena pada dasarnya dalam pengamalan suatu ibadah, hanya ada dua kemungkinan yaitu al-haq (kebenaran) dan al-hawa (hawa nafsu). Jika seorang muslim mengikuti fitrah hati yang lurus, maka akan mengetahui dengan terang mana amalan yang telah diperintahkan oleh Allah dan mana yang tidak.

5. Ikhlas saja Tidak Cukup, namun Harus Diiringi dengan Ittiba’

Sebagai seorang muslim, kita harus meyakini bahwa suatu ibadah itu tidak bisa hanya dilakukan karena niat yang ikhlas. Namun tata caranya juga harus mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Allah telah memerintahkan kita untuk beribadah hanya karena Allah:

مَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama”. (QS. Al Bayyinah : 5)

Dan kita juga diperintahkan oleh Allah untuk mengikuti apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah:

وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. (QS. Al Hasyr : 7)

Dan lihatlah pemahaman salah seorang sahabat terbaik, Abdullah bin Umar Radhiyallaahu ‘anhu, 

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.

Sehingga jelas bahwasanya niat yang baik saja tidak cukup, namun tata cara yang mengikuti Rasulullah juga merupakan syarat dari diterimanya suatu ibadah.

6. Semua Dalil Shahih Datang dengan Mencela Bid’ah

Lihatlah bagaimana Rasulullah selalu mengulang-ulang dalam khutbahnya:

وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

Betapa keras peringatan Rasulullah dalam hal ini. Dan kita mengetahui bahwa jika lafadz umum dalam suatu hadits tersebut diulang-ulang secara terus menerus, maka kita berpegang pada keumuman lafadz tersebut. Keumuman lafadz tersebut bahwa setiap bid’ah adalah sesat.

Setiap muslim yang masih diberi jiwa yang bersih dan lurus maka akan dengan mudah memahami hadits ini bukannya mencari alasan atau pembenaran untuk menolak perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam

7. Mengenal Bid’ah Hasanah itu Sesuatu yang Tidak Mungkin

Mengapa tidak mungkin? Karena setiap ulama yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, atau bahkan lebih, tidak memiliki kaidah yang jelas dalam pembagian tersebut. Kapan suatu amalan dianggap sebagai bid’ah hasanah? Ataupun sebaliknya? Tidak ada kaidah yang pasti. Jika pembagian itu didasarkan kepada hawa nafsu semata, maka kita telah mengetahui jawabannya bahwa pembagian semacam itu tidak dapat diterima.

Sebagai contoh, suatu amalan bisa jadi dianggap bid’ah hasanah oleh seorang ulama. Namun ternyata oleh ulama yang lain, amalan tersebut dianggap oleh bid’ah sayyi’ah. Dan ini sama sekali tidak sama dengan khilaf dalam masalah fiqih. Perbedaan pendapat dalam masalah fiqih memiliki kaidah yang jelas dalam tarjih (memilih pendapat yang kuat). Semua memiliki metode yang jelas dan berdasarkan dalil yang jelas pula. Namun bagaimana dengan pembagian suatu amalan menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah? Tidak ada kaidah yang jelas dalam pembagiannya.

8. Banyaknya Pelaku “Bid’ah Hasanah” Menggunakan Dalil Umum

Betapa banyaknya para pelaku bid’ah hasanah menggunakan dalil umum untuk mengamalkan amalan mereka (yang sangat khusus). Padahal dalam pembahasan ushul fiqih, kita wajib untuk mengamalkan sesuatu yang mutlak sesuai dengan kemutlakannya kecuali ada dalil yang menunjukkan adanya taqyid (ikatan).

Sebagaimana perintah dzikir dan shalawat, kita wajib untuk mengamalkan dzikir dan shalawat secara umum, kecuali adanya dalil khusus yang membuatnya mengikat dengan tata cara tertentu. Namun kita lihat saat ini, ada begitu banyak jenis dzikir dan shalawat yang mengikat para pelaku bid’ah tersebut dengan tata cara tertentu (sebabnya, jenisnya, bilangannya, tata caranya, dan waktunya) secara khusus tanpa ada dalil khusus yang mendasarinya! Bagaimana mungkin hal ini bisa diterima, dan bagaimana mungkin hal ini tidak disebut dengan suatu pensyariatan baru?

Hal ini merupakan sesuatu yang terang sebagaimana matahari di siang yang cerah!

9. Terkandung Begitu Banyak Konsekuensi Buruk ketika Kita Mengatakan adanya Bid’ah Hasanah

Ketika kita mengatakan adanya bid’ah hasanah, ada begitu banyak konsekuensi buruk yang harus kita terima. Kita sama saja mengatakan bahwa:

  1. Agama Islam ini belum sempurna
  2. Rasulullah telah mengkhianati risalah
  3. Manusia memiliki hak untuk membuat syariat
  4. Segala amalan itu pasti diterima asalkan niatnya itu untuk kebaikan
  5. Perkataan Rasulullah bahwa “semua bid’ah adalah sesat” itu adalah keliru

Dan masih banyak lagi konsekuensi buruk lain jika kita mengatakan bahwa bid’ah hasanah itu ada.

Semoga dengan pemaparan singkat ini, kita menjadi dipahamkan bahwa semua bid’ah itu adalah kesesatan dalam agama. Dan kita sebagai kaum yang mencintai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tentu akan dengan sekuat tenaga mengikuti sunnah beliau. Dan kita juga harus bercermin, apakah kita telah mengamalkan seluruh sunnah yang beliau ajarkan? Bukankan kita akan sangat sibuk jika kita mengamalkan seluruh sunnah beliau? Kemudian apa gunanya kita menciptakan amalan baru?

Wallaahul Waliyyut Taufiq

Jurong West, 10-2-2014

Pembahasan ini dirangkum dari kajian Ustadz Irfan bin Abid mengenai kitab Al-Barohin ‘ala ala Bid’ah Hasanah Fiddiin tulisan Abu Mu’adz As-Salafi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s