5 Ramalan

Saduran ini bersumber dari The Fundamentals of Tawheed karangan Dr. Bilal Philips, bab 5.

Seperti yang telah dibahas pada pembahasan sebelumnya, di antara umat manusia, ada yang mengaku memiliki pengetahuan mengenai hal yang ghaib dan tentang masa depan. Orang-orang seperti itu dikenal sebagai peramal, cenayang, penyihir, indigo, astrolog, dan lain sebagainya. Peramal menggunakan berbagai macam cara dan media yang mereka klaim sebagai cara untuk mengetahui informasi-informasi tersebut. Misalnya, membaca garis tangan, melihat horoskop (bintang kelahiran), melihat bola kristal, melempar tongkat, dan lain sebagainya. Pembahasan kali ini akan berfokus pada berbagai macam cara meramal, di luar sihir, karena pembahasan mengenai sihir akan datang pada pembahasan selanjutnya.

Secara umum, peramal yang mengklaim bahwa mereka bisa melihat masa depan ataupun sesuatu yang ghoib, dapat dibagi menjadi dua praktik:

  1. Kelompok pertama adalah orang-orang yang sebetulnya tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai hal yang ghoib maupun masa depan, namun mereka “meramal” dengan cara melihat kejadian umum yang terjadi di masyarakat. Dengan melakukan ritual-ritual yang sebetulnya tidak bermakna, mereka menyampaikan tebakan-tebakan umum. Biasanya orang akan cenderung mengingat beberapa tebakan yang benar, dan cenderung melupakan tebakan lainnya yang salah. Tebakan-tebakan itu digunakan hanya untuk mengingat kembali kenangan yang telah dialami oleh klien, yang biasanya umum terjadi pada setiap orang. Di Amerika Utara, sudah menjadi kebiasaan untuk mempublikasikan ramalan di antara para peramal-peramal terkenal di awal tahun. Namun ketika diperiksa kembali, yang paling akurat dari mereka sekalipun, hanya 24 persen dari ramalan mereka yang tepat sasaran. 
  2. Kelompok kedua adalah kelompok orang yang berhubungan dengan jin. Kelompok ini memerlukan pembahasan yang lebih khusus karena melibatkan dosa terbesar, syirik, dan biasanya keakuratan ramalan mereka lebih tinggi daripada kelompok pertama sehingga kondisi ini menjadi fitnah yang besar bagi kaum muslimin.

Dunia Jin

Ada beberapa kalangan yang menolak kenyataan mengenai dunia jin. Padahal Al-Qur’an telah menjelaskannya dalam sebuah surat, yaitu surat Al-Jin. Mereka berdalih dengan makna kata Jin yang datang dari kata janna, yajunnu, yang artinya “untuk menutup atau menyembunyikan” sehingga mereka mengatakan bahwa jin bermakna “orang asing yang pandai”. Namun pada kenyataannya, Jin adalah salah satu makhluk ciptaan Allah yang eksis di muka bumi bersama manusia. Allah menciptakan jin sebelum Dia menciptakan manusia, dan Allah menciptakannya dari asal yang berbeda dari manusia. Allah berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ ٢٦ وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِن قَبْلُ مِن نَّارِ السَّمُومِ ٢٧

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (Al-Hijr 26-27)

Mereka dinamakan Jin karena mereka tersebunyi dari pandangan manusia. Iblis (syaitan) datang dari dunia jin, walaupun dahulu dia termasuk di dalam kelompok malaikat yang diperintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Namun Iblis menolaknya, dengan beralasan:

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah“” (Shadd 76)

Aisyah radhiyallaahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Malaikat diciptakan dari cahaya dan jin diciptakan dari api (tanpa asap) [1]

Allah juga berfirman:

…وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin,…” (Al-Kahfi 50)

Sehingga jelas bahwa Iblis itu dari golongan Jin, bukan malaikat yang turun statusnya.

Jin dapat dibagi menjadi tiga kelompok, sebagaimana Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ada tiga jenis Jin: jenis yang selalu terbang di udara, jenis yang lain bewujud ular dan anjing, dan jenis yang hidup di muka bumi dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain” [2]

Dan dari jenis keimanannya, jin dapat dibagi menjadi dua, yaitu muslim dan kafir. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an:

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا  ١  يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ ۖ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا ٢  وَأَنَّهُ تَعَالَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا ٣ وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّـهِ شَطَطًا ٤

“Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak. Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah,” (Al-Jin 1-4)

وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ ۖ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَـٰئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا  ١٤  وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا ١٥

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.” (Al-Jin 14-15)

Jin yang kafir sering juga disebut sebagai ifritsyaitanqariin, dan lain sebagainya. Mereka selalu berusaha untuk memalingkan manusia dengan berbagai macam cara. Dan siapa saja manusia yang mengikuti perintah mereka akhirnya menjadi syaitan dari golongan manusia. Allah berfirman:

…وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin…” (Al-An’am 112)

Setiap manusia memiliki seorang jin yang menemaninya dan dinamakan dengan qariin. Dan ini adalah bagian dari ujian manusia dalam hidup. Dan jin ini selalu mengajak manusia untuk berpaling dari kebenaran. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Setiap orang di antara kalian telah diutus untuknya seorang qorin (pendamping) dari golongan jin.” Para sahabat bertanya, “Termasuk Anda, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Termasuk saya, hanya saja Allah membantuku untuk menundukkannya, sehingga dia masuk Islam. Karen itu, dia tidak memerintahkan kepadaku kecuali yang baik.” [3]

Nabi Sulaiman diberikan mukjizat untuk dapat mengendalikan jin, sebagai tanda kenabiannya. Allah berfirman:

وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ

Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).” (An-Naml 17)

Namun kekuatan ini hanya diberikan kepada Nabi Sulaiman, tidak kepada yang lain. Tidak ada seorang lainpun yang dapat mengendalikan jin. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya ifrit [4]  telah datang untuk menggodaku semalam agar aku lalai ketika shalat. Akan tetapi, Allah telah melindungi aku darinya, sehingga aku dapat menangkapnya. Aku mempunyai keinginan untuk mengikatnya di salah satu tiang mesjid hingga waktu pagi, supaya kamu semua dapat melihatnya. Namun, aku teringat kata-kata saudaraku Nabi Sulaiman,

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَّا يَنبَغِي لِأَحَدٍ مِّن بَعْدِي

‘Rabbku, ampunilah aku, berikanlah kepadaku suatu kekuasaan yang tidak akan dicapai seorang pun selepasku.’

Maka, Allah melepas ifrit (hantu) dalam keadaan keadaan hina dan lemah.” [5]

Manusia tidak akan pernah bisa mengendalikan jin karena ini hanya kekhususan yang diberikan kepada Nabi Sulaiman. Namun pada kenyataannya, kontak dengan jin yang dilakukan (selain kesurupan atau kecelakaan) biasanya dilakukan dengan ritual-ritual yang bertentangan dengan syariat [6]. Sehingga jin yang dikontak dengan cara seperti ini mengajak kepada kesyirikan. Tujuan mereka adalah mengajak manusia untuk melakukan dosa terbesar dan menyembah sesuatu selain dari Allah.

Ketika kontak dan kontrak dengan jin telah dilakukan oleh para peramal atau dukun, jin bisa memberi informasi yang ghoib kepada mereka. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mendeskripsikan bagaimana jin mendapatkan informasi tentang hal ghoib. Jin dapat mencapai bagian terbawah dari surga dan mencuri dengar beberapa informasi ghoib yang didengar dari langit. Dan akhirnya mereka akan menyampaikan informasi tersebut kepada manusia [7]. Hal ini banyak terjadi sebelum datangnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa ada begitu banyak dukun yang ramalannya tepat sehingga mereka mendapatkan popularitas yang begitu tinggi bahkan sampai disembah oleh para manusia.

Namun ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam diutus, maka kondisinya menjadi berbeda. Allah menugaskan para malaikat untuk menjaga langit dan para jin tersebut sering diserang dengan bintang jatuh dan meteor. Allah mendeskripsikan fenomena ini dengan ayat Al-Qur’an:

وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا  ٨  وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ ۖ فَمَن يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَّصَدًا  ٩

Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (Al Jin 8-9)

وَحَفِظْنَاهَا مِن كُلِّ شَيْطَانٍ رَّجِيمٍ  ١٧  إِلَّا مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ مُّبِينٌ  ١٨

Dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk, kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.” (Al-Hijr 17-18)

“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah pergi bersama sejumlah shahabat menuju pasar ‘Ukaadh – sementara itu syaithan-syaithan telah dihalangi dari mendapatkan berita dari langit dengan dilemparkan kepada mereka asy-syihab (meteor). Maka syaithan-syaithan tadi kembali kepada kaumnya, dan kaumnya itu bertanya : ‘Ada apa dengan kalian ?’. Mereka menjawab : ‘Kami telah dihalangi memperoleh berita dari langit, dan kami pun dilempari dengan asy-syihab’. Kaum mereka berkata : ‘Tidaklah ada yang menghalangi kalian dari memperoleh berita langit kecuali sesuatu telah terjadi. Maka pergilah kalian ke arah penjuru timur dan barat bumi. Lihatlah apa apa yang menghalangi kalian untuk memperoleh berita dari langit’. Maka mereka pun beranjak pergi ke arah Tihaamah dan bertemu dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang ketika berada di Nikhlah dalam perjalanan menuju pasar ‘Ukaadh. Beliau ketika itu sedang melaksanakan shalat shubuh dengan para shahabatnya. Ketika mereka mendengar Al-Qur’an dibacakan, maka mereka pun benar-benar memperhatikannya, seraya berkata : “Inilah – demi Allah – yang telah menghalangi kita untuk mendapatkan berita dari langit”. Dari tempat ini, mereka (syaithan) kembali kepada kaumnya. Mereka berkata :

إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا ﴿١﴾ يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ ۖ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدً  ٢

“Wahai kaumku, sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami” (QS. Al-Jin : 1-2).” [8]

Sehingga para Jin tidak dapat dengan mudah mendapatkan informasi dari langit sebagaimana mereka dapat lakukan sebelum Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam diutus. Karena itu, mereka mencampur informasi tersebut dengan berbagai kebohongan. Rasulullah bersabda:

“Maka yang paling di atas mendengar sebuah kalimat lalu membisikannya kepada yang di bawahnya, kemudian selanjutnya ia membisikan lagi kepada yang di bawahnya dan begitu seterusnya sampai ia membisikanya kepada tukan sihir atau dukun. Kadang-kadang ia disambar oleh bintang berapi sebelum menyampaikannya atau ia telah menyampaikannya sebelum ia disambar oleh bintang berapi. Maka setan mencapur berita tersebut dengan seratus kebohongan” [9]

Aisyah radhiyallaahu ‘anha meriwayatkan:

”orang-orang bertanya kepada Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tentang para dukun. Maka beliau menjawab: ”tidak ada apa-apanya“. Maka para sahabat berkata : ”Ya Rosulallah, mereka kadang–kadang bisa menceritakan sesuatu yang benar kepada kami “. Maka Rosulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :

تلك الكلمة من الحق يخطفها الجني فيقرها في أذن وليه فيخلطون معها مئة كذبة

Kalimat tersebut berasal dari kebenaranyang dicuri dari seorang jin (dari langit), kemudian dituangkan kedalam telinga walinya (dukun), maka mereka mencampurkan kalimat yang berisi satu kebenaran tersebut dengan seratus kebohongan “. [10]

Abdullah bin Umar radhiyallaahu ‘anhu meriwayatkan:

“Aku tidak pernah mendengar ‘Umar karena sesuatu hal berkata; “Aku menduganya demikian, ” melainkan kenyataannya akan seperti yang diduganya. Pada suatu saat ‘Umar sedang duduk, tiba-tiba lewat seorang laki-laki tampan [11]. ‘Umar berkata; “Dugaanku salah” atau “Orang ini masih berpegang pada agamannya di masa jahiliyyah” atau “Ia adalah dukun mereka. Bawa kemarilah laki-laki itu”. Maka laki-laki itu dipanggil menghadap ‘Umar lalu dia menyampaikan dugaannya dan berkata; “Aku belum pernah melihat sesuatu seperti hari ini, yaitu seorang muslim dihadapkan pada suatu pembicaraan”. ‘Umar berkata lagi; “Sungguh aku yakin (tentang dugaanku) kepadamu kecuali bila kamu memberitahukan sesuatu yang lain kepadaku”. Laki-laki itu berkata; “Dahulu aku memang dukun mereka di masa jahiliyyah”. ‘Umar bertanya; “Apa yang paling menakjubkan yang pernah didatangkan jinmu kepadamu?”. Laki-laki itu menjawab; “Pada suatu hari ketika aku berada di pasar, jin itu datang kepadaku. Aku tahu dia dalam keadaan sedang ketakutan. Jin itu berkata; “Tidakkah engkau mengetahui jika jin sedang berada dalam kebingungan dan keputus asaannya setelah dia berpaling dari menjumpai unta-unta muda dengan alas pelananya” [12]. ‘Umar berkata; “Jin itu benar.” [13]”

Para jin juga dapat memberi informasi tentang masa depan mereka secara relatif. Sebagai contoh, jika seseorang berkunjung ke dukun, maka jin milik dukun tersebut akan mendapat informasi dari qarin dari orang tersebut. Karena itu dukun tersebut dapat menebak apa rencana-rencana dari orang tersebut. Bahkan dapat memberi informasi tentang masa lalu orang tersebut secara detail. Misalkan seperti nama orangtua, di mana dia lahir, bagaimana kelakuannya di waktu kecil, dan lain sebagainya. Kemampuan ini hanya dapat dilakukan oleh dukun yang telah melakukan perjanjian dengan jin. Dan karena jin dapat bergerak dengan cepat, sehingga jin dapat mengumpulkan informasi secara cepat pula. Bukti dari kemampuan ini dapat ditemukan di Al-Qur’an di cerita mengenai Nabi Sulaiman dan Ratu negeri Saba. Ketika Ratu tersebut mengunjungi Nabi Sulaiman, Nabi meminta bantuan jin untuk memindahkan singgasana Ratu tersebut.

قَالَ عِفْرِيتٌ مِّنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن تَقُومَ مِن مَّقَامِكَ ۖ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ

Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.

Pandangan Islam terhadap Ramalan

Karena ramalan mengandung banyak kesyirikan, maka Islam melarang dengan keras praktik tersebut. Islam menentang segala bentuk keterlibatan dengan dukun, kecuali ingin menasihatinya untuk menjauhi praktik tersebut.

Mengunjungi Dukun

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberikan prinsip yang melarang dengan keras berbagai bentuk kunjungan kepada dukun. Safiyyah meriwayatkan dari Hafsah radhiyallaahu ‘anha  bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal dan meminta untuk mengabarkan sesuatu, kemudian ia membenarkan perkataannya maka tidak diterima shalatnya 40 hari” [15]

Hukuman yang sangat berat diberikan kepada orang yang mengunjungi dukun, karena ini gerbang dari sebuah kesyirikan. Individu yang tidak diterima sholatnya tersebut tetap berkewajiban melaksanakan sholat selama 40 hari walaupun pahalanya tidak diterima. Jika dia kemudian juga meninggalkan sholat, maka dia telah melakukan dosa besar yang lain. Karena ketika seseorang melakukan sholat, selain mendapatkan pahala, namun itu juga menghapus kewajiban sholat yang ada pada dirinya.

Percaya pada Dukun

Ketika seseorang berkunjung kepada dukun dan percaya dengan apapun yang dukun tersebut katakan mengenai hal ghoib, maka dia telah jauh kafir. Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah:

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal ataudukun kemudian membenarkan perkataannya, maka ia telah kufur dengan Al Qur’an yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam” [16]

Kepercayaan semacam ini sama saja menyandarkan sifat Allah yang mengetahui hal ghoib kepada makhluk. Sehingga ini jelas salah satu bentuk syirik.

Ancaman kekufuran ini juga secara qiyas bisa diterapkan kepada orang yang membaca tulisan atau buku tentang ramalan, atau mendengarkan dan melihat peramal di acara televisi. Karena sarana seperti inilah yang sering dilakukan di zaman ini.

Allah menjelaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui hal yang ghaib:

… وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri… ” (Al-An’am 59)

Selain itu Allah berfirman kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

…قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّـهُ ۚ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. …” (Al-A’raf 188)

Selain itu Allah juga berfirman:

…قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّـهُ

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”…” (An-Naml 65)

Karena itulah, segala bentuk ramalan yang ada itu terlarang bagi muslim. Baik itu membaca garis tangan, kue keberuntungan, dan zodiak yang bisa menebak masa depan manusia. Selain itu Allahlah satu-satunya yang mengetahui tentang masa yang akan datang:

إِنَّ اللَّـهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖوَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّـهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman 34)

Karena itulah, seorang muslim menghindari berbagai macam bentuk ramalan yang ada di zaman ini. Dan misal suatu prediksi yang didasari pengetahuan, misal menebak mengenai cuaca, seorang muslim harus menambahkan kata insya Allah, karena Allah-lah yang menyebabkan hal itu semua. Begitu pula ketika seorang dokter memprediksi bahwa pasiennya akan melahirkan dalam waktu sekian bulan dan sekian hari, harus disertai dengan kata insya Allah. 

Catatan kaki:

  1. Diriwayatkan oleh Muslim (dalam shahihnya, nomor 7134)
  2. Diriwayatkan oleh Thabrani dan Al-Hakim
  3. Diriwayatkan oleh Muslim (dalam shahihnya, nomor 6757)
  4. Hantu dari kalangan jin
  5. Diriwayatkan oleh Bukhari nomor 75 dan Muslim nomor 1104
  6. Bisa dibaca di Esay Ibnu Taimiyah tentang Jin, yang ditulis oleh Abu Ameenah Bilal Philips
  7. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim
  8. Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan lainnya
  9. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Tirmidzi
  10. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim
  11. Nama beliau adalah Sawad bin Qarib
  12. Ketika para jin dicegah dari mencuri berita langit, mereka harus mengikuti kaum arab untuk mengetahui alasan pencegahan mereka.
  13. Diriwayatkan oleh Bukhari
  14. Jin yang ditugaskan pada setiap orang
  15. Diriwayatkan oleh Muslim
  16. Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Baihaqi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s