4b Jimat dan Pertanda (2)

Saduran ini bersumber dari The Fundamentals of Tawheed karangan Dr. Bilal Philips, bab 4.

Percaya akan Pertanda Buruk

Masyarakat Arab sebelum datangnya Islam, sering memperhatikan bagaimana arah pergerakan burung atau binatang sebagai pertanda nasib baik maupun nasib buruk, sehingga mereka dapat merencanakan segala sesuatunya setelah melihat pertanda tersebut. Praktik menentukan pertanda baik maupun buruk berdasarkan pergerakan burung ataupun binatang disebut sebagai thiyarah yang berasal dari kata thaara yang berarti “terbang”. Sebagai contoh, ketika seseorang hendak melakukan perjalanan jauh dan seekor burung terbang di atasnya kemudian berbelok ke kiri. Seseorang tersebut langsung merasa bahwa dia akan mendapat nasib buruk, sehingga dia akan berhenti dan kembali ke rumah. Islam menentang praktik semacam ini karena bertentangan dengan dasar Tauhid al-Ibadah dan Tauhid Asma’ dan Sifat dengan:

  1. Dengan mengarahkan peribadahan, yaitu “keyakinan” (tawakkul) kepada yang selain Allah
  2. Dengan memberikan manusia kemampuan untuk memprediksi datangnya nasib baik maupun nasib buruk, dan kemampuan untuk menghindari takdir Allah.

Dasar dari pelarangan thiyarah berdasarkan hadits yang diriwayatkan melalui al-Husain, cucu Rasulullah, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa melakukan thiyarah atau melakukannya untuk diri sendiri, digunakan untuk meramalkan masa depannya, atau digunakan untuk menyihir orang lain, maka tidak termasuk golongan kami [1]

“Kami” di sini maksudnya adalah kaum muslimin. Sehingga thiyarah dapat menjadi sesuatu yang mengancam pelakunya keluar dari keyakinan Islam. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga menolak semua efek thiyarah di sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Mu’aawiyah bin al-Hakam

Mu’aawiyah mengatakan kepada Rasulullah “ada di antara kami yang percaya akan pertanda dari burung” Rasulullah menjawab “itu hanya sesuatu yang kalian buat sendiri, sehingga jangan biarkan hal itu menghentikanmu” [2]

Maksudnya jangan membuatnya menghentikan apa yang ingin kita lakukan sebelumnya, karena pertanda semacam itu hanyalah imajinasi manusia yang tidak ada hubungannya dengan kejadian nyata. Karena itu, Rasulullah menjelaskan bahwasanya Allah yang Maha Agung tidak menentukan burung terbang sebagai pertanda apapun. Tidak ada kesuksesan ataupun kesialan yang terjadi karena pergerakan burung, walaupun terkadang terjadi kebetulan yang mungkin tepat dengan kejadian yang dimaksud.

Para sahabat, Radhiyallaahu ‘anhuma menolak dengan tegas berbagai macam praktik yang berhubungan dengan pertanda burung yang mereka temukan di lingkungan mereka maupun keluarga mereka sendiri. Sebagai contoh, ‘Ikrimah Radhiyallaahu ‘anhu pernah berkata, “Ketika kami duduk bersama dengan Ibnu Abbas Radhiyallaahu ‘anhu, seekor burung terbang di atas kami dan bersiul. Seseorang di antara kami berkata: “Bagus! Bagus!”, kemudian Ibnu Abbas berkata “Tidak ada kebaikan maupun kesialan di dalamnya”” [3]. Demikian pula yang dilakukan oleh para tabi’in (murid-murid para sahabat) yang juga menolak praktik-praktik semacam itu di zaman mereka. Sebagai contoh, ada seekor gagak yang berbunyi ketika Thawus sedang berada dalam perjalanan. Kemudian salah seorang temannya berkata: “Bagus!”, lalu Thawuus berkata “Apa yang bagus darinya? Jangan temani perjalananku lebih jauh” [4].

Namun, ada sebuah hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dalam Shahih Bukhari [5] yang artinya:

Kesialan ada pada tiga hal: wanita, hewan tunggangan, dan rumah [6]

Aisyah Radhiyallaahu ‘anha menolak perkataan ini dengan berkata:

Demi Dia yang menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada Abul-Qaasim [7] yang siapapun yang mengatakan demikian telah berdusta. Rasulullah pernah berkata bahwa kaum jahiliyyah sering berkata: “Sesungguhnya ada kesialan pada wanita, rumah, dan hewan tunggangan”, kemudian Aisyah membaca ayat:

…مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya…” (Al-Hadid 22) [8]

Walaupun demikian, hadits yang disebutkan sebelumnya itu shahih. Namun harus diterjemahkan dengan narasi lain yang lebih spesifik:

Kalaulah kesialan itu ada, maka itu akan ada di kuda-kuda, wanita, dan tempat tinggal [9]

Rasulullah sama sekali tidak menyatakan adanya kesialan, namun beliau hanya menunjukkan tempat-tempat di mana sebuah keburukan paling mungkin muncul, jika memang itu ada. Ketiga hal tersebut dianggap sebagai tempat datangnya kesialan karena fakta bahwa ketiga hal tersebut adalah hal terpenting dalam hidup manusia laki-laki. Karena itu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan beberapa doa setelah menikahi seorang wanita. Rasulullah bersabda:

Jika seorang di antara kamu menikahi wanita atau membeli seorang budak, hendaknya dia memegang dahi mereka, dan menyebut nama Allah, memohon rahmat Allah, kemudian berkata:
اللهم إني أسألك خيرها وخير ما جبلتها عليه وأعوذ بك من شرها وشر ما جبلتها عليه

‎(Allahumma inni as.aluka khoiroha wa khoiroma jabaltaha ‘alaihi wa a’udzubika min syarriha wa syarrima jabaltaha ‘alaihi)

(Ya Allah, aku memohon kepadaMu yang terbaik darinya dan yang terbaik dari apa yang kau turunkan darinya. Dan aku juga memohon perlindungan dari kejahatannya dan kejahatan apa yang engkau turunkan darinya)

Apabila dia membeli seekor unta, maka hendaknya memegang bagian teratas dari punuknya dan mengucapkan hal yang sama [10]

Dan diriwayatkan pula dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa ketika kita masuk ke sebuah rumah harus membaca:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

(A’uudzubikalimatillaahit taammaati min syarri maa kholaq)

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakanNya.” [11]

Ada juga sebuah riwayat yang seolah mendukung kesialan, di mana:

Anas bin Malik menyebutkan bahwa Yahya bin Sa’id berkata bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah dan berkata: “Ya Rasulullah, ada sebuah rumah yang penuh dengan anggota keluarga dan harta yang banyak. Namun lama-kelamaan jumlah mereka menyusut, dan akhirnya habis. Bolehkan kami meninggalkannya?” Rasulullah kemudian menjawab: “Tinggalkanlah, karena itu telah dilaknat oleh Allah” [12]

Rasulullah memberitahukan bahwa tindakan meninggalkan rumah itu bukan karena thiyaarah namun karena tempat itu telah menjadi beban mereka secara psikologis karena suatu hal berat yang menimpa mereka. Dan ini adalah sebuah perasaan yang alamiah yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Ketika seseorang merasa tertimpa kesialan atau keburukan, biasanya seseorang menjadi tidak menyukainya dan ingin menjauh darinya sedapat mungkin, walau sesuatu tersebut tidak memberikan kesialan baginya. Dan kejadian ini terjadi setelah keburukan tersebut menimpa mereka, bukan sebelumnya. Dibenarkan untuk mengatakan bahwa sesuatu dilaknat oleh Allah setelah keburukan menimpa mereka. Bisa jadi musibah tersebut muncul karena hukuman terhadap amal buruk yang telah mereka lakukan. Dan sebaliknya, manusia juga secara umum senang untuk berada di dekat benda yang membawa kebaikan atau keberuntungan baginya. Perasaan ini sendiri bukan thiyaarah. Walaupun jika disalahtempatkan, perasaan tersebut dapat mengarah ke thiyaarah dan syirik. Hal ini terjadi jika seseorang menganggap bahwa sesuatu tersebut dapat membawa keberuntungan maupun kesialan, dan kemudian lama-lama mempersembahkan ibadah ke sesuatu tersebut.

Faal (Pertanda Baik)

Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada wabah penyakit ataupun thiyarah, namun aku menyukai Faal” kemudian para sahabat bertanya, “apakah itu Faal?” kemudian beliau menjawab: “kata-kata yang baik” [13]

Pengakuan bahwa suatu benda memiliki kesialan atau keberuntungan sama saja berprasangka buruk kepada Allah dan merupakan dasar-dasar dari munculnya syirik. Walaupun kepercayaan akan keberuntungan atau pertanda baik merupakan sesuatu yang tampak positif, namun hal itu tetap mengarah kepada syirik jika menyandarkan penyebab keberuntungan terhadap suatu benda. Karena itu para sahabat terkejut karena Rasulullah menunjukkan kesukaannya kepada Faal, keberuntungan. Rasulullah namun membatasi faal  pada batas yang diizinkan oleh Islam. Sebagai contoh, memberi julukan kepada orang yang sering sakit menjadi “Saalim” (selamat) atau kepada orang yang sering kehilangan “Waajid” (penemu). Penggunaan kata-kata ini hanya sebagai pemberi semangat terhadap hal buruk yang menimpa mereka. Orang-orang beriman harus terus menjaga optimismenya terhadap Allah setiap saat.

Sikap Islam terhadap Pertanda Baik maupun Buruk

Hadits sebelumnya telah jelas menunjukkan bahwa thiyaarah merupakan kepercayaan secara umum terhadap suatu pertanda. Prinsip tersebut menyatakan datangnya keberuntungan atau kesialan hanya dari pergerakan burung. Dan prinsip ini telah ditolah oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kaum arab jahiliyah mengambil pertanda dari burung, dan bangsa lain juga mengambil hal serupa dari makhluk lainnya. Namun prinsipnya sama, mereka hanya melakukan syirik. Inilah beberapa contoh dari bentuk-bentuk pertanda yang dipercaya oleh orang-orang barat:

Mengetuk Kayu

Ketika seseorang bersyukur karena mendapat suatu nikmat dan berharap bahwa nasib mereka tidak akan berubah, maka mereka berkata “mengetuk kayu” sambil mencari kayu untuk diketuk. Kepercayaan ini berasal dari orang-orang Eropa yang percaya bahwa dewa-dewa hidup di dalam pohon. Dan untuk meminta pada dewa tersebut, mereka biasanya melakukannya dengan memegang pohon. Dan apabila permohonannya terkabul, maka mereka akan menyentuh pohon itu lagi untuk berterima kasih.

Menaburkan Garam

Jika garam tumpah, mereka percaya bahwa kesialan akan datang setelah itu. Setelah itu mereka akan membuang garam yang tumpah itu melalui bahu kiri untuk menangkal akibat dari kesialan itu. Asal dari kepercayaan ini bahwa garam dapat menyebabkan sesuatu tetap awet. Karena itu orang zaman dahulu mengira bahwa garam memiliki kekuatan mistis. Karena itu menumpahkan garam merupakan tanda kesialan. Dan karena roh jahat ada di bagian kiri seseorang, maka membuang garam ke bagian kiri akan memuaskan roh jahat tersebut.

Memecahkan Cermin

Banyak yang percaya bahwa memecahkan cermin secara tidak sengaja akan membawa kesialan selama tujuh tahun. Manusia purba percaya bahwa pantulan mereka di air adalah jiwa mereka. Sehingga jika pantulan tersebut hancur dan pecah, maka jiwa mereka juga akan hancur. Maka kepercayaan ini juga dibawa kepada cermin.

Kucing Hitam

Mereka juga percaya bahwa jika ada seekor kucing hitam melintas di suatu jalan, maka akan datang suatu kesialan kepada orang-orang di sekitarnya. Kepercayaan ini datang sejak dari zaman purba di mana kucing hitam adalah peliharaan para penyihir. Para penyihir sering membuat ramuan sihir dengan mencampur otak kucing hitam, katak, ular, dan serangga. Jika seekor kucing hitam dapat hidup selama tujuh tahun tanpa berakhir di dalam ramuan, maka dia akan berubah menjaid penyihir.

Angka 13

Di Amerika, angka 13 dianggap sebagai sesuatu yang sial, karena itu banyak bangunan di sana yang menghilangkan lantai 13, dan diganti dengan lantai 14. Mereka menganggap bahwa jumat ke-13 dianggap sebagai hari sial dan banyak yang menghindari bepergian dan mengadakan acara pada hari tersebut. Dan jika ada keburukan yang menimpa mereka di hari tersebut, maka akan langsung disandarkan kepada hari tersebut. Sebagai contoh, pilot dari ekspedisi Apollo pada tahun 1970, yang hampir saja kecelakaan, mengatakan bahwa seharusnya dia tahu bahwa sesuatu akan terjadi. Karena peluncuran roket tersebut dilaksanakan pada jumat ke-13, jam 13.00, dan nama penerbangannya adalah Apollo 13.

Asal dari kepercayaan ini adalah perjamuan terakhir dari Yesus yang diceritakan dalam Bibel. Di perjamuan terakhir, ada 13 orang yang hadir. Salah satunya adalh Judas, seseorang yang akhirnya akan mengkhianati Yesus. Sedangkan jumat ke-13 dipercaya sebagai kesialan karena dua hal. Yang pertama, mereka percaya bahwa pada hari tersebut Yesus disalib. Dan juga mereka percaya bahwa hari Jumat merupakan hari pertemuan para penyihir.

Kemampuan Allah untuk mendatangkan keberuntungan dan kesialan telah disandarkan kepada makhluk pada kepercayaan-kepercayaan ini. Dan ketakutan pada keberuntungan dan kesialan, yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah, justru ditujukan kepada makhluk. Dan juga pengetahuan akan sesuatu yang belum terjadi dan sesuatu yang ghoib juga harusnya hanya disandarkan kepad Allah, bukan kepada makhluk. Allah menyatakan dengan jelas dengan salah satu sifat Allah, ‘Aalim al-Ghaib, yang mengetahui sesuatu yang ghoib. Dan di dalam Al-Qur’an, Rasulullah diminta oleh Allah untuk menyatakan jika Rasulullah mampu untuk melihat masa depan, tentu dia akan dapat menghindari semua kejadian buruk [15].

Karena itu, percaya akan pertanda-pertanda semacam ini dapat menjerumuskan seseorang ke dalam syirik dalam semua bidang tauhid. Dan aturan ini ditegaskan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Thiyarah itu syirik! Thiyarah itu syirik! Thiyarah itu syirik! [16]

Telah diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, ia berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَنْ يَقُوْلَ أَحَدُهُمْ :اَللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ.

‘Barangsiapa mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” Para Sahabat bertanya: “Lalu apakah tebusannya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Hendaklah ia mengucapkan: ‘Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (yang dijadikan objek tathayyur) melainkan makhluk-Mu dan tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.’” [17]

Dari hadits tersebut, jelas terlihat bahwa thiyarah tidak hanya terbatas pada burung. Itu bisa terjadi pada segala bentuk pertanda. Dan kepercayaan ini bisa memiliki bentuk yang berbeda di setiap tempat dan zaman, namun pada dasarnya itu tetaplah syirik.

Karena itu, seorang muslim harus berjuang keras untuk menghindari hal-hal seperti ini. Jika secara tidak sadar seorang muslim telah melakukannya, maka dia harus memohon ampun kepada Allah dengan doa yang telah disebutkan tadi. Hal ini seolah sesuatu yang sepele, namun dari kacamata Islam, hal ini merupakan sesuatu yang serius. Karena inilah bibit yang dapat mengarah kepada syirik besar. Penyembahan berhala, manusia, bintang, dan lain sebagainya tidak muncul begitu saja. Kepercayaan tersebut tumbuh begitu lama karena pemahaman yang salah tentang thiyarah. Manusia harus percaya akan keesaan Allah dan harus menyingkirkan segala akar yang dapat mengarah kepada syirik.

Catatan kaki

  1. Diriwayatkan oleh Tirmidzi
  2. Diriwayatkan oleh Muslim (4/5532)
  3. Dipetik dari Taisiir al’Aziz al-Hamid
  4. Dipetik dari Taisiir al’Aziz al-Hamid
  5. Sebuah kitab hadits yang paling sahih, yang dikumpulkan oleh Imam Bukhari
  6. Hadits riwayat Bukhari, (7/666)
  7. Abul-Qaasim merupakan nama dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sumpah ini maksudnya “Demi Allah”
  8. Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Hakim, dan Ibnu Khuzaimah
  9. Hadits riwayat Bukhari (649)
  10. Diriwayatkan oleh Abu Dawud melalui ‘Amr bin Syu’aib
  11. Diriwayatkan oleh Muslim dari Khaulah binti Hakim
  12. Diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud dan Muwatta Imam Malik
  13. Diriwayatkan oleh Bukhari (7/436, 651)
  14. Taisir Al-‘Aziiz al-Hamiid
  15. (Al-A’rah 188)
  16. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah
  17. Diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Thabrani

3 thoughts on “4b Jimat dan Pertanda (2)

    1. Abu Salman Penulis Tulisan

      Wa ‘alaikum salam wa rahmatullaahi wa barokatuh

      Alhamdulillah, jazaakallaahu khoir sudah diadd di Facebook. Baarakallaahu fiikum.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s