2b Kategori Syirik (2)

Saduran ini bersumber dari The Fundamentals of Tawheed karangan Dr. Bilal Philips, bab 2.

Syirik dalam Al-Asma’ dan Sifat

Syirik dalam kategori ini termasuk praktek yang umum dilakukan oleh para penyembah berhala dengan cara memberikan Allah nama dan sifat makhluk, ataupun juga sebaliknya, memberikan makhluk nama dan sifat Allah.

1. Syirik dengan Menyerupakan Allah dengan Makhluk

Dalam kelompok syirik ini, Allah diserupakan dengan makhluk (biasanya manusia ataupun hewan) dalam bentuk dan kemampuan. Namun karena manusia dianggap lebih superior dibandingkan hewan, bentuk manusia lebih umum digunakan dalam penyerupaan Allah terhadap makhluk. Sebagai konsekuensinya, gambaran dari Sang Pencipta sering digambarkan ataupun dipahat dalam bentuk kelompok manusia penyembahnya. Contohnya, kaum Hindu dan Budha menyembah para berhala yang berbentuk manusia berkebangsaan Asia dan menganggapnya sebagai perwujudan dari Tuhan mereka. Kaum Nasrani masa kini juga percaya bahwa Nabi Isa adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia, dan ini juga merupakan salah satu contoh dari syirik. Ada begitu banyak pelukis dari kaum Nashrani seperti Michaelangelo (meninggal 1565), yang menggambarkan Tuhan sebagai seorang tua berkebangsaan Eropa dengan rambut dan jenggot putih yang dilukis di Sistine Chapel di Vatikan. Gambar ini dijadikan sebuah panutan tertinggi mengenai gambaran Tuhan  oleh kaum Nashrani. 

2. Syirik dengan Menyerupakan Makhluk dengan Allah

Bentuk syirik ini terjadi ketika makhluk diberi sifat atau nama dari Allah. Sebagai contoh, orang-orang Arab jahiliyah menyembah berhala yang diberi nama-nama Allah. Tiga berhala utama mereka adalah: Al-Lat, yang diambil dari nama Allah Al-IlahAl-‘Uzza, diambil dari Al-‘Aziz; dan Al-Manaat, yang diambil dari Al-Mannaan. Pada zaman Rasulullah juga muncul seorang nabi palsu yang bernama Yamaamah, yang mengambil nama Rahmaan yang hanya dapat disandarkan kepada Allah.

Di antara sekte-sekte agama Syi’ah, terdapat sekte Nusairiyah di Syria, yang percaya bahwa keponakan dan menantu dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ali bin Abi Talib, adalah penjelmaan dari Allah dan memberinya berbagai macam sifat Allah. Dan terdapat juga sekte Ismai’ilis, yang juga dikenal sebagai Agha Khanis, yang percaya bahwa pimpinan mereka, Agha Khan, adalah penjelmaan dari Allah. Termasuk juga Druze yang ada di Lebanon yang percaya bahwa Khalifah Fatimiyah, al-Hakim bin Amrillaah, adalah penjelmaan Allah yang terakhir dalam dunia manusia.

Beberapa tokoh dari kaum Sufi seperti al-Hallaaj mengatakan bahwa mereka dapat menyatu dengan Tuhan dan dan kepercayaan bahwa Tuhan dan makhluk dapat menyatu merupakan salah satu bentuk syirik dalam Asma’ dan Sifat. Para cenayang dan spiritualis masa kini seperti Shirley Maclaine dan J.Z. Knight, sering mengaku bahwa mereka juga memiliki sifat-sifat dari Tuhan. Selain itu, teori relativitas yang sangat terkenal dari Albert Einstein (E = mc^2, bahwa energi sama dengan massa dikalikan dengan pangkat dua dari kecepatan cahaya) yang dipelajari di sekolah-sekolah, merupakan salah satu ekspresi dari syirik dalam al-Asma’ dan sifat. Teori tersebut mengatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan maupun dihancurkan, hanya berubah bentuk dalam zat dan juga sebaliknya. Namun, kita sebagai seorang muslim harus percaya bahwa energi maupun zat adalah makhluk dan semuanya nanti akan musnah, karena Allah telah menjelaskan:

اللَّـهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

Allah adalah pencipta segala sesuatu…” (Az-Zumar: 62)

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

Segala sesuatu (yang ada di dunia ini) akan musnah” (Ar-Rahman: 26)

Teori tersebut juga menyiratkan bahwa massa dan energi adalah sesuatu yang abadi dan tidak memiliki awal dan akhir karena tidak diciptakan dan hanya berubah bentuk. Sifat ini hanya mungkin disandarkan kepada Allah yang tidak memiliki awal dan juga akhir.

Teori Darwin tentang evolusi yang berusaha menjelaskan evolusi makhluk dalam bentuknya dari benda mati tanpa adanya campur tangan Tuhan. Salah seorang pendukung teori Darwin masa kini, Sir Aldous Huxley menyatakan [1] bahwa :

Teori Dawin berlepas diri dalam segala diskusinya dari seluruh pendapat bahwa Tuhan adalah pencipta segala sesuatu

Syirik dalam Al-‘Ibadah

Dalam kategori syirik ini, kegiatan ibadah ditujukan kepada selain Allah dan terkadang balasan dari ibadah itu juga dianggap berasal dari makhluk, bukan dari Allah. Seperti dalam kategori syirik sebelumnya, kategori syirik ini juga mempunyai dua aspek:

1. As-Syirik al-Akbar (Syirik besar)

Bentuk syirik ini muncul jika suatu kegiatan peribadahan ditujukan kepada selain daripada Allah. Ini merupakan bentuk penyembahan berhala yang paling jelas, di mana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam diutus secara khusus oleh Allah untuk mencegah manusia dari aksi ini. Allah berfirman:

… وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّـهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”…” (An-Nahl: 36)

Thaghut berarti sesuatu yang disembah bersama Allah atau disembah selain Allah. Sebagai contoh, cinta adalah suatu ibadah, yang bentuk kesempurnaan cinta itu hanya bisa ditujukan kepada Allah. Di dalam Islam, kecintaan kepada Allah diekspresikan kepada ketaatan total kepada-Nya. Ini bukanlah jenis cinta yang lumrah dimiliki oleh manusia seperti cinta kepada orangtua, anak, makanan, dan lain-lain. Jika cinta semacam ini ditujukan kepada Allah, maka itu sama saja meletakkan Allah pada tingkatan makhluk, sehingga bisa menjadi syirik dalam asma’ dan sifat. Cinta dalam bentuk penyembahan berarti kepatuhan total pada kehendak Allah. Karena itu, Allah berkata kepada Rasulullah:

…قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّـهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّـهُ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihimu…” (Ali Imran: 31)

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabat:

Tidak beriman seorangpun di antara kalian sampai aku menjadi seseorang yang lebih kalian cintai melebihi anak, ayah, dan seluruh manusia yang lain” [2]

Kecintaan kepada Rasulullah bukan karena zat manusianya, namun karena kerasulannya. Sehingga, kecintaan kepadanya mirip seperti kecintaan kepada Allah, yaitu ketaatan total kepada perintahnya. Allah berfirman:

…مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّـهَ

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah…” (An-Nisa’ 80)

Dan

…قُلْ أَطِيعُوا اللَّـهَ وَالرَّسُولَ

Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya…” (Ali-‘Imran 32)

Apabila manusia sampai mengizinkan suatu kecintaan terhadap seseorang ataupun sesuatu menjadi penghalang antara dirinya dengan Allah, maka dia sama saja telah menyembah sesuatu tersebut. Sehingga, uang maupun hawa nafsu seseorang dapat menjadi Tuhan seseorang. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Celakalah hamba-hamba dirham [3]

Dan Allah juga berfirman dalam Al-Qur’an:

…أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ هَوَاهُ

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya…” (Al-Furqan: 43)

Penekanan lebih lanjut juga diberikan terhadap bahayanya syirik dalam ibadah karena hal ini berlawanan dengan tujuan utama penciptaan jin dan manusia sebagaimana difirmankan oleh Allah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Ad-Dzariyat: 56)

Syirik besar merupakan sebuah tindakan pengkhianatan yang terbesar terhadap Pencipta alam semesta, sehingga hal ini diperhitungkan sebagai dosa yang sangat besar. Dosanya sangat besar sehingga dapat membatalkan seluruh amalan yang pernah dilakukan dan juga membuat sang pelaku terancam kekal di neraka. Seluruh agama-agama selain Islam jatuh dalam kesyirikan ini. Segala agama ciptaan manusia merupakan cara lain untuk meminta para pengikutnya untuk menyembah makhluk. Kaum kristiani diminta untuk menyembah manusia, Nabi Isa, yang mereka klaim sebagai salah satu perwujudan Tuhan. Kaum katolik juga menyembah Maria yang disebutkan sebagai “Ibu Tuhan”, dan juga menyembah malaikat seperti Michael, bahkan mempersembahkan 29 September sebagai hari St. Michael. Bahkan mereka juga menyembah para santo-santo dari kalangan manusia.

Sebagian dari kalangan muslim yang jatuh pada praktik syirik ini adalah mereka yang menyembah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam atau kepada para wali sebagaimana yang dilakukan oleh para Sufi, dimana mereka percaya bahwa para wali tersebut dapat menjawab doa mereka. Padahal Allah telah jelas mengingatkan dalam Al-Qur’an:

قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّـهِ أَوْ أَتَتْكُمُ السَّاعَةُ أَغَيْرَ اللَّـهِ تَدْعُونَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar!”” (Al-An’am 40)

2. As-Syirik al-Asghar (Syirik Kecil)

Mahmud bin Lubayd meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah syirik kecil”. Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’, kelak di hari kiamat ketika amalan manusia diberi balasan, Allah ‘Azza wa Jalla akan mengatakan kepada mereka (yang berbuat riya’’), “Pergilah kepada orang yang kamu harapkan pujiannya sewaktu di dunia dan lihatlah apakah kamu mendapati pahala dari mereka?” [4]

Beliau juga bersabda, “Syirik yang tersembunyi, yaitu seorang laki-laki berdiri melaksanakan sholat, lalu dia memperbagus sholatnya karena ingin dilihat oleh seseorang”. [5]

Ar-Riya’

Riya’ adalah perbuatan melakukan berbagai macam ibadah supaya dilihat dan dipuji oleh manusia. Dosa ini akan menghancurkan seluruh pahala yang terdapat dalam suatu amalan, dan terancam dengan balasan yang berat. Riya’ merupakan sesuatu yang berbahaya karena pada dasarnya, manusia senang dan menikmati pujian dari manusia lain. Sehingga mengerjakan ibadah untuk memberi kesan baik di antara manusia ataupun untuk mendapat pujian manusia, adalah sesuatu hal yang harus dihindari dan mendapat perhatian khusus. Bahaya ini merupakan sesuatu yang signifikan bagi orang yang beriman, karena seluruh macam ibadah seharusnya hanya ditujukan kepada Allah semata.

Pada kenyataannya, kemungkinan bagi seorang mukmin untuk melakuksan syirik besar itu sangat kecil. Sebab bahaya dan konsekuensinya begitu nyata. Namun bagi orang beriman sekalipun, kemungkinan untuk melakukan riya’ ini sangat besar, sebab begitu tersembunyi. Riya‘ hanya melibatkan aksi sederhana berupa perubahan niat. Motivasi melakukan ibadah itu sangat berpengaruh terhadap kemungkinan melakukan riya’ karena ini berkaitan erat dengan hati manusia. Ibnu Abbas menyadari kenyataan ini ketika berkata:

Syirik itu lebih samar dari semut hitam yang merayap di atas batu hitam pada waktu malam gelap gulita [6]

Sehingga perhatian khusus harus diberikan untuk meyakinkan niat dalam melakukan ibadah. Niat tersebut harus murni saat melakukan suatu amal ibadah. Karena itu, Islam memerintahkan kita untuk menyebut nama Allah sebelum melakukan setiap amalan. Selain itu, dzikir-dzikir juga diperintahkan sebelum dan sesudah makan, minum, tidur, berhubungan seksual, bahkan sampai saat ke kamar mandi, untuk membangun dasar bagi manusia untuk selalu mempersembahkan ibadahnya hanya kepada Allah. Dan juga untuk menyadari bahwa setiap tindakan kita dilihat oleh Allah. Kesadaran ini juga disebut Taqwa, di mana dapat terus menjaga niat seseorang dalam beribadah.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan doa perlindungan dari segala bentuk syirik kepada Sahabat yang mulia, Abu Bakar ash-Shiddîq Radhiyallahu ‘anhu yang berbunyi :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allâh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu yang aku ketahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui (sadari)” [7]

Catatan kaki:

  1. Dalam buku Francis Hitching, The Neck of the Giraffe, (New York: Ticknor and Fields, 1982, p.254 from Tax and Callender, 1960, vol III, p.45)
  2. Diriwayatkan melalui Anas dan terdapat dalam Shahih Bukhori (1/13) dan Shahih Muslim (1/71)
  3. Diriwayatlah dalam Bukhori (8/443)
  4. Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tabarani, dan Al-Baihaqi dalam az-Zuhud.
  5. Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah
  6. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan disebutkan dalam Taisir al-‘Aziz al-Hamid
  7. Hadits shahih riwayat al-Bukhâri, al-Adabul Mufrad no. 716 dan Abu Ya’la no. 60

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s