2a Kategori Syirik (1)

Saduran ini bersumber dari The Fundamentals of Tawheed karangan Dr. Bilal Philips, bab 2.

Pembelajaran tauhid tidak akan lengkap tanpa mempelajari kebalikannya, yaitu syirik. Beberapa hal mengenai syirik sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya, menggunakan contoh bagaimana syirik dapat menjadi pembatal tauhid. Namun dalam pembahasan kali ini, syirik akan dibahas dalam pembahasan khusus. Mengetahui tentang syirik sama pentingnya dengan mengetahui tentang tauhid, karena Allah berfirman:

…إِنَّ اللَّـهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, namun Allah akan mengampuni dosa-dosa selain dari itu…” (An-Nisa’ 48)

Dosa dari syirik adalah dosa yang merupakan menolak tujuan utama diciptakannya manusia. Sehingga dosa itu merupakan dosa yang terberat di sisi Allah, dan tidak akan pernah diampuni.

Syirik secara bahasa berarti menyekutukan, membagi, atau mengasosiasikan. Namun secara istilah Islam, syirik berarti sebuah aksi yang dilakukan untuk membuat sekutu bagi Allah dalam bentuk apapun. Penjelasan syirik dalam pembahasan ini akan mengikuti pembahasan tiga kategori tauhid yang telah dijelaskan sebelumnya. Sehingga kita akan membahas mengenai syirik di dalam Rububiyah, kemudian Asma’ dan Sifat, dan terakhir di dalam Ibadah. 

Syirik dalam Rububiyah

Kategori syirik ini menjelaskan keyaikinan bahwa (1) sesuatu selain Allah juga dapat melakukan proses penciptaan sampai derajat setara atau hampir setara dengan Allah, atau justru sampai tahap yang ekstrim, (2) bahwa tidak ada sesuatupun yang menciptakan alam semesta ini. Hampir seluruh agama-agama yang muncul jatuh dalam aspek pertama dalam syirik Rububiyah. Sementara para filsuf dan filsafat buatan mereka biasanya jatuh dalam aspek kedua dalam syirik Rububiyah.

1. Syirik dengan Pengasosiasian 

Keyakinan yang jatuh dalam subkategori ini adalah keyakinan di mana diakuinya suatu zat yang dominan dalam penciptaan atau Tuhan pencipta utama, namun kekuasaan penciptaan itu juga dibagi kepada Tuhan-Tuhan atau makhluk lain yang memiliki tingkatan lebih rendah dibandingkan Tuhan utama tadi. Kepercayaan semacam ini menjadi kesalahan utama baik bagi agama-agama yang dikenal sebagai monoteistik (mengakui hanya ada satu Tuhan) maupun politeistik (mengakui adanya banyak Tuhan). Di dalam kacamata Islam, seluruh agama tersebut termasuk dalam politeistik, karena terjadi kerusakan pemahaman yang mengasosiasikan Allah dengan yang lainnya.

Di dalam agama Hindu, dikenal zat pencipta utama yaitu Brahma, yang dikenal sebagai zat yang tidak memiliki tempat, berada di mana-mana, tidak dapat berubah, abadi, abstrak, dan absolut di mana segala sesuatu bermula dan berakhir. Dan sementara Brahma dipercaya sebagai pencipta alam semesta yang memiliki hubungan trinitas dengan dewa penjaga Wisnu dan dewa penghancur Siwa. Sehingga dalam hal ini, syirik dalam rububiyah sangat jelas terlihat dalam pendelegasian penciptaan, penghancuran, dan penjagaan kepada dewa-dewa yang lain.

Dalam kepercayaan agama Kristen, Tuhan mewujudkan dirinya dalam tiga wujud yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Anak (Yesus) dan Roh kudus. Ketiga orang ini dianggap sebagai sebuah kesatuan dan juga dianggap memiliki substansi yang sama. Yesus digambarkan memiliki kekuasaan seperti Tuhan, dan melakukan pengadilan terhadap dunia. Roh kudus yang dalam Bibel disebutkan memiliki kekuatan penciptaan, dianggap bagian dari kepala Tuhan. Paul berpendapat bahwa roh kudus merupakan penuntun dan pemberi pertolongan bagi kaum kristiani, yang mewujudkan dirinya di dalam hari pantekosta. Sehingga kepercayaan ini jelas terjatuh ke dalam syirik Rububiyah, karena Yesus dan roh kudus dianggap memiliki kekuasaan Tuhan dalam mengadili, menuntun, dan memberi pertolongan.

Zarathustra mempercayai bahwa dewa mereka, Ahura Mazda, adalah pencipta segala sesuatu yang baik, dan berhak untuk menjadi satu-satunya tujuan penyembahan. Api dianggap sebagai salah satu dari tujuh ciptaan Ahura Mazda dan dianggap sebagai anaknya atau perwakilannya. Namun mereka jelas melakukan syirik dalam Rububiyah karena menganggap bahwa sesuatu yang buruk, kekerasan, dan kematian itu diciptakan oleh dewa yang lain Angra Mainyu yang dilambangkan sebagai sumber kegelapan. Karena itu, kekuasaan Tuhan untuk menciptakan segalanya dibagi antara Ahura Mazda dan Angra Mainyu.

Di dalam agama Yoruba, yang diikuti oleh sekitar 10 juta orang di Afrika Barat (terutama Nigeria), mereka mengenal satu dewa utama, yaitu Olorius (Dewa Surga) atau OlodumareNamun mereka juga mengenal dewa-dewa lain di dalam sembahyang Orisha, sehingga sudah jelas bahwa agama Yoruba merupakan agama politeistik. Dan konsekuensinya, mereka terjatuh dalam syirik rububiyah karena membagi kemampuan-kemampuan Tuhan ke dalam banyak dewa.

Agama Zulu di Afrika Selatan percaya akan satu dewa, yaitu Unkulunkulu, yang berarti yang terdahulu, yang pertama, dan yang paling dihormati. Gelar bagi dewa tersebut adalah Nkosi yaphezulu (dewa langit) dan uMuvelingqanqi (yang pertama muncul). Dewa mereka digambarkan sebagai seorang laki-laki, dan bersama dengan bumi (yang digambarkan sebagai wanita), menciptakan manusia di bumi. Petir dan kilat dianggap sebagai aksi dari dewa, namun mereka percaya bahwa segala penyakit dan masalah yang ada di dunia ini diakibatkan oleh para leluhur, yaitu idlozi atau abaphansi (mereka yang ada di bawah bumi). Para leluhur tersebut juga melindungi makhluk, meminta makanan, dan senang dengan ritual dan persembahan, dan dapat menghukum mereka yang tidak menuruti permintaan mereka. Dan dapat juga masuk ke dalam raga para dukun (inyanga). Karena itu, syirik dalam rububiyah jelas mereka lakukan karena mereka menganggap ada yang mencipta selain Tuhan, yaitu para leluhur.

Di antara pemeluk Islam sendiri, sangat patut kita sayangkan, syirik dalam rububiyah juga bisa terjadi. Sebagai contoh, kepercayaan bahwa roh dari para wali atau orang-orang sholih dapat mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia ini, walaupun para wali atau orang-orang sholih itu telah meninggal. Roh mereka dianggap dapat memenuhi kebutuhan seseorang, dapat menghilangkan kesialan, dan menyembuhkan siapa saja yang memanggil mereka. Karena itu, para penyembah kubur itu menganggap bahwa ruh manusia dapat melakukan sesuatu yang seharusnya hanya dapat dilakukan oleh Allah, yaitu menciptakan kejadian.

Dan juga sudah menjadi praktik yang umum di antara para kaum Sufi bahwa mereka memiliki kepercayaan “rijal al ghoib” (manusia yang tidak terlihat), dan pemimpin mereka disebut “qutub”, yang dapat mempengaruhi segala urusan di dunia ini.

2. Syirik dengan Peniadaan

Syirik rububiyah dengan subkategori ini menggambarkan pemikiran dan ideologi yang menolak dan meniadakan adanya Tuhan baik secara eksplisit maupun implisit. Dalam kasus tertentu, keberadaan Tuhan ditolak seutuhnya (atheisme), dan dalam kasus yang lain keberadaan Tuhan diakui, namun penggambarannya menunjukkan bahwa keberadaan Tuhan itu sendiri sebetulnya ditolak (Panteisme).

Ada cukup banyak agama kuno yang menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada. Sebagai contoh, sebuah agama yang dinamakan Budha. Agama tersebut berdasarkan ajaran seorang reformis ajaran Hindu, Gautama Buddha, seorang reformis yang menolak sistem kasta yang dianut Hindu. Namun ajaran itu masih menganut pokok ajaran dari Hindu, yaitu reinkarnasi. Aliran Budha Hinayama, yang merupakan ajaran yang tertua, tegas menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada. Dan ini jelas merupakan salah satu syirik dalam rububiyah.

Mirip dengan itu pula, ajaran Jainisme yang mengajarkan Vardhamana, tiadanya Tuhan, namun setelah kematian maka jiwa akan mengalami suatu peningkatan status. Sebuah ajaran yang jelas melakukan syirik dalam rububiyah.

Dan sebuah contoh yang sangat jelas dalam sejarah Islam adalah Fir’aun yang hidup pada zaman Nabi Musa. Allah Subhaanahu wa ta’ala menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa Fir’aun menolak adanya Tuhan dan mengatakan kepada Musa dan kaumnya bahwa dialah Tuhan itu sendiri, sang pencipta yang sebenarnya. Perkataan Fir’aun dikutip di dalam Al-Qur’an:

قَالَ لَئِنِ اتَّخَذْتَ إِلَـٰهًا غَيْرِي لَأَجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُونِينَ

Berkata (Fir’aun) dan jika kalian menjadikan selainku Tuhan, maka aku akan memenjarakan kalian” (As-Syu’aro’ 29)

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

Seraya berkata: Akulah Tuhan yang paling tinggi” (An-Nazi’at 24)

Pada abad ke-19 dan 20, beberapa filsuf dari eropa menyebarkan pemikiran bahwa Tuhan itu tidak ada, dan dikenal sebagai “Filsafat kematian Tuhan”. Filsuf dari Jerman Philipp Mainlander (1841-1876) dalam tulisannya, The Philosophy of Redemption, 1876, menyatakan bahwa dunia dimulai dengan kematian Tuhan, karena Tuhan adalah satu kesatuan yang kemudian terpecah dengan pluralitas dunia dan kebahagiaan terserak-serak dan kemudian penderitaan yang mendominasi dunia. Di Prussia, Friedrich Nietzsche (1844-1900) mendukung ide “kematian Tuhan” dan menyatakan bahwa Tuhan hanyalah sebuah halusinasi yang muncul karena kekhawatiran manusia. Jean Paul Sartre, seorang Filsuf Prancis pada abad ke-20, juga menggaungkan pemikiran” kematian Tuhan. Dia menyatakan bahwa Tuhan tidak mungkin ada karena keberadaannya sendiri merupakan kontradiksi. Ide adanya Tuhan, menurutnya, hanyalah halusinasi ciptaan manusia.

Charles Darwin (meninggal 1882) menyatakan bahwa manusia tadinya adalah kera yang cerdas. Dan ide ini didukung oleh banyak ilmuwan dan filsuf sebagai dasar “sains” bahwa Tuhan itu tidak ada. Menurut mereka, agama berkembang dari animisme menjadi monoteisme karena manusia berkembang dari makhluk individual menjadi makhluk sosial yang bermasyarakat.

Para pendukung teori evolusi tersebut mengatakan bahwa semua yang ada di dunia ini tidak diciptakan, namun berkembang dari zat yang satu menjadi zat yang lain. Dan kepercayaan ini juga dipegang oleh Karl Marx, seorang komunis dan juga ilmuwan sosialis, yang segala sesuatu adalah zat yang terus berubah. Dan juga menyatakan bahwa Tuhan hanyalah bagian dari halusinasi manusia, dibuat oleh kelompok yang berkuasa untuk mengatur kelompok yang lebih lemah.

Contoh lain yang menerapkan contoh syirik semacam ini adalah kelompok Sufi seperti IbnuArabi yang menyatakan bahwa hanya Allah lah yang ada (semua adalah Allah, dan Allah adalah semua). Mereka menolak konsep bahwa Allah dan makhluk adalah sesuatu yang berbeda. Ide ini juga didukung oleh seorang filsuf Yahudi dari Belanda, Baruch Spinoza, yang menyatakan bahwa Tuhan merupakan bagian dari seluruh alam semesta, termasuk manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s