Penyebab Terbebasnya Seseorang dari Api Neraka

Saat Imam Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi, dalam Syarah At-Thahawiyah, membahas salah satu poin pada Al-Aqidah At-Thahawiyah karya Imam Abu Ja’far At-Thahawi, beliau menyebutkan paling tidak ada sepuluh penyebab seseorang dapat terbebas dari api neraka. Penyebab-penyebab tersebut dirangkum dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Poin yang dimaksud adalah:

نَرْجُو لِلْمُحْسِنِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ، وَيُدْخِلَهُمُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ، وَلَا نَأْمَنُ عَلَيْهِمْ، وَلَا نَشْهَدُ لَهُمْ بِالْجَنَّةِ، وَنَسْتَغْفِرُ لِمُسِيئِهِمْ، وَنَخَافُ عَلَيْهِمْ، وَلَا نُقَنِّطُهُمْ.

Kita berharap bagi para muhsinin dari kalangan mukminin agar Allah berkenan mengampuni dosa-dosa mereka dan memasukkan mereka ke Jannah karena rahmat-Nya. Kita tidak merasa aman atas ancaman Allah bagi mereka. Kita tidak memastikan mereka dengan Jannah. Kita memohonkan ampunan bagi pelaku dosa dari mereka dan kita juga takut mereka akan ditimpa siksa karena kejahatan mereka, namun kita tidak berputus asa terhadap rahmat Allah yang dengan itu mereka akan dapat diampuni.

Sebab-sebab dapat dibebaskannya seseorang dari api neraka adalah:

Pertama, Bertaubat, pertaubatan yang murni.

Taubat tersebut harus dilakukan secara ikhlas. Seluruh umat telah bersepakat bahwa taubat merupakan salah satu sebab diampuninya dosa-dosa dan sekaligus sebagai penyebab terbebasnya dari siksa neraka.

Kedua, Istighfar, memohon ampunan kepada Allah.

Istighfar terkadang dilakukan sendiri dan terkadang dilakukan bersama taubat. Saat disebut sendiri, istighfar dapat bermakna taubat, dan saat taubat disebut sendiri, dapat juga bermakna istighfar. Namun saat keduanya disebut secara bersamaan, maka istighfarbermakna permohonan ampun atas dosa yang telah dilakukan, dan taubat bermakna kembali kepada Allah dan memohon perlindungan atas dosa yang mungkin akan dilakukan di masa yang akan datang.

Ketiga, Amal kebaikan.

Satu amal kebaikan akan mendapat balasan senilai dengan sepuluh kebaikan dan satu perbuatan dosa akan mendapat balasan senilai dengan satu perbuatan dosa. Dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapus keburukan yang telah lalu” [1]

Keempat, Penderitaan yang dialami di dunia.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya.” [2]. Penderitaan yang diikuti dengan kesabaran, akan berbuah pahala, sedang penderitaan yang diikuti dengan perbuatan keji, akan membawa dosa.

Kelima, Siksa kubur. (Imam Ibnu Abil ‘Izz membahas lebih lanjut mengenai hal ini dalam bab lain)

Keenam, Doa-doa yang dipanjatkan oleh para Mukmin terhadap saudaranya baik saat yang didoakan masih hidup maupun sudah meninggal.

Ketujuh, Amalan-amalan yang dilakukan untuk pelaku dosa tersebut setelah yang bersangkutan meninggal, seperti sedekah, bacaan Al-Qur’an [3], dan juga haji.

Kedelapan, Ketakutan dan penderitaan yang dialami saat hari kiamat.

Kesembilan, Peristiwa yang dikabarkan dalan Shahihain:

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang-orang beriman yang telah selamat dari api neraka (telah melewati shirath/jembatan yang ada diatas punggung neraka) akan tertahan di Qantharah (sebuah tempat di antara surga dan neraka). Kemudian ditegakkanlah qishash terhadap sebagian mereka akibat kezaliman yang terjadi di antara mereka di dunia. Setelah dibersihkan dan dibebaskan (dari kezaliman), barulah mereka diizinkan masuk surga.

Kesepuluh, Syafaat dari para pemberi syafaat. (Imam Ibnu Abil ‘Izz telah membahasnya pada bab yang lain)

Kesebelas, Ampunan dari Allah (sesuai kehendak Allah).

Kita dapat melihat bahwa ada banyak jalan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya untuk dapat terbebas dari api neraka. Namun jika seseorang masih belum terampuni dosa-dosanya, barangkali karena dosa yang dilakukannya sudah terlampau berat. Dalam kondisi seperti ini, seseorang harus masuk ke dalam Neraka, dan barangkali yang bersangkutan dapat kembali menjadi suci karenanya. Tidak ada seseorangpun yang memiliki sedikit keimanan di hati, atau telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan berhak untuk disembah selain Allah, akan abadi berada di dalam neraka.

Kita tidak dapat memastikan seseorangpun dari umat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan masuk surga maupun neraka. Perkecualian dapat diberikan hanya kepada orang-orang yang telah dipastikan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk masuk surga. Sedangkan untuk yang selain itu, kita hanya bisa berharap mereka masuk surga, dan juga takut mereka akan ditimpa siksa neraka.

Wallaahul Waliyyut Taufiq

Jurong West, 07-10-2013

Dirangkum dari Syarah Aqidah At-Thahawiyah karya Imam Ibnu Abil ‘Izz, dibantu terjemahan dari Dr. Muhammad Abdul Haq Anshari.

[1] HR Tirmidzi no 1988, beliau berkata hadits ini Hasan Shahih

[2] HR. Muslim IV/1993

[3] Pembahasan mengenai sampai atau tidaknya bacaan Al-Qur’an kepada mayyit, tentu perlu suatu pembahasan tersendiri. Namun contoh ini disebutkan oleh Imam Ibnu Abil ‘Izz.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s