1c Tauhid al-Ibadah (Tauhid Uluhiyah)

Saduran ini bersumber dari The Fundamentals of Tawheed karangan Dr. Bilal Philips, bab 1.

Walaupun kedua kategori tauhid yang telah disebutkan sebelumnya memiliki dampak yang besar, namun beriman pada kedua kategori tersebut saja tidak cukup untuk memenuhi persyaratan tauhid dalam Islam. Tauhid ar-Rububiyah dan Tauhid Asma’ dan Sifat harus dilengkapi dengan Tauhid al-Ibadah (yang juga dikenal sebagai Tauhid Uluhiyah), supaya tauhid seorang muslim menjadi lengkap. Allah Subhaanahu wa ta’ala telah menjelaskan bahwa kaum musyrikin pada zaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam banyak mengakui aspek-aspek yang ada dalam kedua kategori tauhid yang telah disebutkan sebelumnya. Allah memerintahkan Rasulullah untuk berkata pada para penyembah berhala:

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّـهُ

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.”…” (Yunus 31)

…وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّـهُ

Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan mereka?’, niscaya mereka akan menjawab “Allah”… ” (Az-Zukhruf 87)

…لَئِن سَأَلْتَهُم مَّن نَّزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِن بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّـهُ

Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”…” (Al-Ankabut 63)

Para kafir Quraisy tersebut mengakui bahwa Allah Subhaanahu wa ta’ala lah yang menciptakan dan menjaga alam semesta ini. Namun pengakuan dan pengetahuan akan hal tersebut tidak membuat status mereka sebagai seorang muslim di hadapan Allah. Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِاللَّـهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ

Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam Keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)” (Yusuf 106)

Mujahid [1] berkomentar mengenai ayat ini: “Keyakinan mereka kepada Allah, digambarkan dalam ucapan mereka bahwa Allah yang menciptakan mereka, memberi makan mereka, dan juga yang mengambil nyawa mereka, tidak menghentikan mereka untuk menyembah sembahan-sembahan yang lain selain Allah [2]. Dari ayat yang telah disebutkan sebelumnya, telah jelas bahwa kaum kuffar mengetahui keesaan dan juga kekuasaan Allah. Pada kenyataannya, mereka dahulu juga melakukan berbagai macam ibadah yang dipersembahkan kepada Allah seperti Haji, sedekan, qurban, sumpah, dan juga sholat. Mereka juga mengatakan bahwa mereka  hanya mengikuti agama Ibrahim. Karena pengakuan tersebut, Allah kemudian berfirman:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَـٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Ibrahim bukanlah seorang Yahudi ataupun seorang Nasrani, namun dia adalah seorang yang lurus dan berserah diri kepada Allah dan tidak termasuk golongan orang-orang yang menyekutukan Allah” (Ali-Imran 67)”

Bahkan sebagian dari para kafir Quraisy tersebut meyakini adanya hari kebangkitan dan juga takdir. Salah satu bukti dari keyakinan ini dapat dilihat dari puisi-puisi yang ada sebelum zaman Islam. Sebagai contoh, seorang pujangga bernama Zuhair mengatakan mengenai hari pembalasan:

Entah itu ditunda, dicatat dalam buku, dan disimpan sampai hari pembalasan, atau dipercepat dan langsung mendapat balasannya

‘Antarah juga mengatakan:

Kemanakah kita akan lari dari kematian, jika Allah yang ada di langit telah menetapkannya? [3]

Sehingga jelas, walaupun para penyembah berhala tersebut mengakui tauhid mereka dan juga menyatakan pengetahuan mereka akan Allah, Allah Subhaanahu wa ta’ala menggolongkan mereka sebagai kaum kafir dan musyrikin hanya karena mereka menyembah sembahan selain Allah.

Sebagai konsekuensinya, aspek paling penting dari tauhid adalah tauhid al-Ibadah, yang mengesakan Allah dalam disembah. Segala bentuk peribadahan harus ditujukan kepada Allah semata karena Allah-lah satu-satunya yang berhak untuk disembah, dan hanya Allah-lah yang dapat memberikan balasan kepada hamba yang elah menyembah-Nya. Selain itu, tidak diperlukan perantara apapun antara Allah dan hamba untuk beribadah. Allah Subhaanahu wa ta’ala menjelaskan betapa pentingnya mempersembahkan ibadah langsung kepada Allah dengan menekankan bahwa itulah tujuan utama diciptakannya manusia, dan itu pulalah inti dari ajaran yang dibawa oleh para Rasul:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku” (Ad-Dzariyat 56)

…وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّـهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu'” (An-Nahl 36)

Mengetahui seluruh tujuan penciptaan manusia tentu saja merupakan hal yang jauh di atas kemampuan manusia. Manusia sebagai makhluk yang terbatas tentu saja tidak dapat memahami seutuhnya aksi dari Allah yang tidak terbatas. Karena itu, Allah membuat Ibadah kepada Allah sebagai salah satu kebutuhan manusia, dan juga mengutus para Rasul dan kitab-kitab untuk menjelaskan sebagian dari tujuan-tujuan penciptaan manusia yang dapat dipahami dengan akal manusia. Tujuan tersebut, sebagaimana telah disebutkan, yaitu menyembah Allah Subhaanahu wa ta’ala dan risalah utama dari para Rasul adalah tauhid, menjadikan Allah satu-satunya sesembahan (Tauhid al-Ibadah). Karena itu, dosa terbesar yang dapat dilakukan manusia adalah syirik, menyekutukan Allah dalam melakukan ibadah.

Dalam surat Al-Fatihah yang dibaca oleh seorang muslim setiap hari dalam sholat, kita menyebutkan: “Hanya kepada Engkau kami menyembah, dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan“. Pernyataan ini merupakan pernyataan jelas yang menekankan bahwa segala bentuk peribadahan harus ditujukan kepada satu-satunya yang bisa memberikan pertolongan: Allah. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan konsep ini dengan berkata:

“Jika kau memohon dalam doa, memohonlah hanya kepada Allah. Dan jika kau memohon pertolongan, memohonlah hanya kepada Allah” [4]

Betapa pentingnya beribadah kepada Allah tanpa perantara apapun ditekankan oleh Allah dalam banyak ayat yang menjelaskan betapa dekat Allah dengan makhluk-Nya. Sebagai contoh:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖفَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (Al-Baqarah 186)

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya” (Qaf 16)

Pengakuan tauhid al-Ibadah berarti menjadi penolakan seluruh bentuk perantara dan persekutuan dalam ibadah kepada Allah. Apabila seseorang memohon kepada orang yang sudah mati atau meminta bantuan kepada roh-roh orang yang dianggap mulia dan sudah meninggal, maka mereka telah mempersekutukan Allah dengan makhluknya dalam beribadah. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Doa adalah ibadah” [5]. Dan Allah berfirman:

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّـهِ مَا لَا يَنفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ

Maka mengapa kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak  memberi bahaya kepada kamu?” (Al-Anbiya 66)

…إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّـهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ

Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu…” (Al-A’raf 194)

Apabila seseorang berdoa kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kepada jin, malaikat, atau para wali untuk memohon bantuan mereka untuk memohon pertolongan Allah, maka hal tersebut juga termasuk dalam syirik. Konsep Ghauts al-A’zham, sebuah gelar yang diberikan oleh orang-orang jahil kepada ‘Abdul Qadir Al Jailani [6], juga merupakan salah satu bentuk syirik. Gelar tersebut berarti “sumber pertolongan yang terbesar, seseorang yang dapat menyelamatkan dari bahaya”, dan gelar tersebut hanya layak disematkan kepada Allah. Ketika hal yang buruk menimpa mereka, beberapa orang memanggil ‘Abdul Qadir menggunakan panggilan ini dan memohon pertolongan dan perlindungannya. Padahal Allah berfirman:

…وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ

Apabila Allah menimpakan kemudharatan kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia…” (Al An’am 17)

…مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّـهِ زُلْفَىٰ…

Kami tidak menyembah mereka melainkan karena mereka dapat membuat kami lebih dekat kepada Allah…” (Az-Zumar 3)

Dari keterangan ini kita dapat mengetahui bahwa pada asal mulanya, berhala tersebut digunakan untuk perantara, namun Allah tetap menyebut mereka sebagai penyembah berhala. Kaum muslimin yang melakukan hal yang sama dengan alasan yang sama, harus berkaca dari kenyataan ini.

Kaum Nasrani, terpengaruh oleh ajaran dari Saul dari Tarsus (yang kemudian dipanggil Paul), mendewakan Nabi Isa dan menujukan seluruh ibadah kepada Nabi Isa dan Ibunya. Kaum Katolik dari kaum Nasrani memiliki santo-santo yang menjadi tujuan ibadah mereka dengan kepercayaan bahwa para santo tersebut dapat memberikan manfaat bagi keperluan mereka di dunia. Kaum Katolik juga menggunakan para pastor sebagai perantara antara mereka dengan Allah, didasari pemahaman yang keliru bahwa para pastor itu lebih dekat kepada Allah karena kesholehan mereka, dan hampir pasti doa mereka lebih didengar Allah.

Hampir semua sekte Syi’ah mengalokasikan waktunya untuk berdoa kepada ‘Ali, Fatimah, Hasan, dan Husein [7] karena pemahaman mereka yang keliru.

Dalam pandangan Islam, ibadah tidak hanya meliputi puasa, zakat, haji, dan kurban. Ibadah juga meliputi berbagai macam amalan hati seperti cinta, percaya, takut, dan segala bentuk sikap hati yang hanya boleh ditujukan kepada Allah. Allah telah menjelaskan mengenai amalan hati ini dan memperingati bahayanya jika dilaksanakan secara berlebihan:

…وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّـهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّـهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّـهِ

Dan di antara manusia terdapat kaum yang menyembah sekutu-sekutu selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana cinta mereka kepada Allah. Adapun orang-orang yang beriman memiliki cinta yang jauh lebih besar hanya kepada Allah…” (Al-Baqarah 165)

أَلَا تُقَاتِلُونَ قَوْمًا نَّكَثُوا أَيْمَانَهُمْ وَهَمُّوا بِإِخْرَاجِ الرَّسُولِ وَهُم بَدَءُوكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ أَتَخْشَوْنَهُمْ ۚ فَاللَّـهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَوْهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. ” (At-Taubah 13)

وَعَلَى اللَّـهِ فَتَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ…

“… Dan hanya kepada Allah kamu bertawakkal jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Al-Maidah 23)

Istilah ibadah berarti kepatuhan total, dan Allah adalah satu-satunya pembuat hukum. Sehingga penerapan hukum sekuler yang tidak berdasarkan hukum Allah (Syari’ah) merupakan salah satu bentuk kekufuran terhadap Allah dan merupakan salah satu bentuk syirik. Allah berfirman:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّـهُ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ…

“…Barangsiapa yang memutuskan sesuatu tidak berdasarkan ketetapan Allah, maka mereka termasuk golongan orang-orang kafir.” (Al-Maidah 44)

Pada suatu waktu, salah seorang sahabat, ‘Adi ibnu Hatim, yang dahulunya adalah nasrani, mendengar Rasulullah membaca ayat Al-Qur’an:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah” (At-Taubah  31)

Kemudian ‘Adi ibnu Hatim berkata : “Wahai Rasulullah, kami tidaklah beribadah kepada mereka”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أليس يحلون لكم ما حرم الله فتحلونه، ويحرمون ما أحل الله فتحرمونه؟

Bukankah mereka menghalalkan untuk kalian apa yang Allah haramkan sehingga kalianpun menghalalkannya [8], dan mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan sehingga kalian mengharamkannya? [9]”.

Beliau (Adi bin Hatim) berkata : “Benar”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فتلك عبادتهم

Itulah (yang dimaksud) beribadah kepada mereka” [10]

Karena itu, salah satu poin penting dari pelaksanaan tauhid al-Ibadah adalah penerapan syariat Islam di tempat di mana terdapat mayoritas kaum muslimin. Hukum Allah perlu untuk diperkenalkan lagi kepada masyarakat sehingga negara-negara Islam, di mana saat ini kebanyakan dari mereka berdasarkan hukum kapitalis dan komunis yang berlawanan dengan hukum Allah, dapat menerapkan hukum Islam dalam pemerintahan mereka. Karena pengakuan bahwa hukum buatan manusia itu lebih tinggi dari hukum Allah merupakan salah satu bentuk syirik dan dapat membawa kita menuju kekufuran. Bagi pihak yang memiliki kekuasaan harus melaksanakannya, dan bagi yang belum memiliki kekuatan, harus menasihati semampunya untuk menolak hukum buatan manusia dan kembali kepada hukum syariah. Jika hal inipun tidak dapat dilakukan, maka paling tidak kita harus membenci hukum buatan manusia itu dengan mengharap rahmat Allah Subhaanahu wa ta’ala.

Catatan kaki:

[1] Mujahin bin Jubair Al-Makki (742-722) adalah salah seorang murid yang paling menonjol dari Ibnu ‘Abbas. Perkataan beliau mengenai tafsir Al-Qur’an dikumpulkan oleh ‘Abdur-Rahman at-Thahir dalam sebuah judul Tafsir Mujahid.

[2] Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir At-Thabari

[3] Dikutib oleh Sulaiman bin Abdul Wahhab dalam Taisir al-Aziz al-Hamid (Beirut: al-Maktab al-Islami, edisi kedua, 1970, halaman 34)

[4] Diriwayatkan oleh Tirmidzi melalui sahabat Ibnu ‘Abbas, lihat ‘Arbain an-Nawawi.

[5] Sunan Abi Dawud, No. 1474

[6] ‘Abdul Qadir (1077-1166) adalah salah seorang ulama madzhab Hanbali di Baghdad. Ceramah beliau (dikumpulkan dalam al-Fath ar-Rabbani, Kairo, 1302) merupakan ajaran yang mendasar dicampur dengan sedikit interpretasi mistis terhadap ayat Al-Qur’an. Ibnul ‘Arabi (Lahir pada 1165) menjuluki beliau Qutb (penghulu) abad tersebut dan juga mengatakan bahwa ‘Abdul Qadir telah mencapai derajat tertinggi di mana tidak ada yang bisa melebihi derajat tersebut kecuali Allah. ‘Ali ibnu Yusuf As-Shattanaufi (meninggal 1314) menulis buku berjudul Bahjat al-Asrar di mana dia menyandarkan begitu banyak keajaiban kepada ‘Abdul Qadir. Kaum Sufi Qadariyah juga melakukan berbagai macam ibadah yang mengatasnamakan ‘Abdul Qadir.

[7] Fatimah adalah putri bungsu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang menikah dengan keponakan beliau, ‘Ali bin Abi Thalib. Hasan dan Husein adalah putera mereka.

[8] Para pendeta nasrani mengharamkan menikah lebih dari satu istri dan juga menikah dengan sepupu mereka. Katolik Roma bahkan melarang pastornya untuk menikah, dan juga melarang perceraian secara umum.

[9] Gereja kristiani menghalalkan konsumsi babi, darah, dan alkohol. Dan sebagian dari mereka membolehkan penggambaran Allah dengan gambar dan patung (digambarkan sebagai manusia)

[10] Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan mengatakan : “Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan beliau menilainya hasan, ‘Abd bin Humaid, Ibnu Abi Hatim, dan Ath Thabrani dari banyak jalur”. Lihat Fathul Majid hal. 109,  Daarus Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s