1b Tauhid Asma’ dan Sifat

Saduran ini bersumber dari The Fundamentals of Tawheed karangan Dr. Bilal Philips, bab 1.

Kategori Tauhid ini memiliki 5 aspek utama:

Pertama, nama dan sifat Allah harus dijelaskan sesuai dengan apa yang telah dideskripsikan oleh Allah dan Rasul-Nya, tanpa memalingkan maknanya dari makna yang jelas dari nama dan sifat tersebut dalam Bahasa Arab. Sebagai contoh, Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa Allah murka kepada orang-orang kafir dan munafik:

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّـهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ اللَّـهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan Allah Azza wa Jalla mengadzab kaum munafik laki-laki dan perempuan, juga kaum musyrik laki-laki dan perempuan karena mereka berprasangka buruk kepada Allah Azza wa Jalla . Mereka akan mendapatkan giliran (kebinasaan) yang amat buruk. Allah Azza wa Jalla memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka jahanam. Dan neraka jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali” (Al-Fath 6)

Karena itu, murka merupakan salah satu sifat Allah. Adalah sesuatu yang keliru jika kita memalingkan makna murka menjadi “hukuman-Nya” karena murka/marah adalah salah satu tanda kelemahan manusia (makhluk), dan tidak pantas disandangkan kepada Allah. Kita harus menerima pernyataan bahwa Allah itu murka, dan kemurkaannya tidak sama dengan murkanya manusia, sebagaimana dijelaskan oleh Allah:

… لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ…

…Tidak ada yang serupa dengan-Nya…” (As-Shura’ 11)

Sesuatu yang berbahaya ketika kita mencoba menerjemahkan nama dan sifat Allah menggunakan akal dan logika, yang pada akhirnya akan menolak adanya nama dan sifat tertentu dari Allah. Ketika Allah menyifati diri-Nya hidup, sementara manusia juga hidup, maka para “rasionalis” akan menolak sifat hidup tersebut karena itu sama saja menyamakan-Nya dengan manusia. Dengan logika seperti ini, sama saja menganggap Allah itu tidak hidup dan tidak ada. Kesamaan nama dari sifat Allah dan sifat manusia hanyalah sampai pada kesamaan nama, bukan kesamaan tingkat. Ketika suatu sifat disandarkan kepada Allah, yang diambil adalah kesempurnaan makna pada sifat tersebut dan dibebaskan dari segala kelemahan makhluk.

Kedua, kita harus mengimani seluruh nama dan sifat yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya, tanpa menambahi nama dan sifat yang baru. Sebagai contoh, kita tidak boleh memberi nama Allah Al-Ghadib (Yang Maha Pemurka), walaupun kita mengetahui bahwa Allah dapat murka, karena Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mendeskripsikan nama tersebut. Hal ini seolah baik saja dalam logika, namun kita dilarang melakukan hal ini karena dapat mengarah kepada deskripsi yang salah kepada Allah. Dan ilmu manusia yang terbatas tidak mungkin dapat menjelaskan Allah yang tidak terbatas keilmuannya.

Ketiga, kita tidak boleh menyandarkan sifat makhluk kepada Allah. Sebagai contoh, dalam injil (yang ada saat ini), disebutkan bahwa Allah menciptakan alam semesta dalam 6 hari, kemudian tidur pada hari ke tujuh [1]. Karena alasan ini, orang Nasrani dan Yahudi mengambil hari Sabtu atau Minggu untuk beristirahat karena bekerja pada hari tersebut berarti sebuah dosa. Sungguh klaim yang tidak pantas untuk menyandarkan sifat manusia kepada Allah. Hanya makhluklah yang lelah setelah melakukan pekerjaan berat kemudian perlu beristirahat untuk memulihkan diri [2].

Dan dalam tempat lain di Injil, Allah digambarkan menyesali pikiran buruk-Nya sebagaimana manusia menyesali perbuatannya ketika melakukan kesalahan [3]. Sebagaimana juga bahwa Allah adalah ruh atau memiliki ruh itu sama saja merusak makna tauhid itu sendiri. Allah sama sekali tidak mendeskripsikan diri sebagai ruh dalam Al-Qur’an, dan tidak juga Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam mendiskripsikan demikian. Bahkan Allah menyatakan bahwa ruh adalah bagian dari makhluk [4].

Prinsip kunci yang harus diikuti berkaitan dengan sifat Allah telah dijelaskan dalam Al-Qur’an:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ…

… tidak ada yang serupa dengan-Nya, dan Dia yang maha pendengar lagi maha melihat” (As-Shura’ 11)

Sifat mendengar dan melihat merupakan sifat makhluk. Namun ketika disandarkan kepada Allah, tentu tidak bisa disamakan dengan mendengar dan melihatnya makhluk. Kita harus menyandarkannya dengan makna yang paling sempurna dari melihat dan mendengar. Dan ketika kita mengetahui bahwa Allah maha mendengar dan melihat, kita tidak perlu mengatakan bahwa Allah memiliki mata dan telinga, karena hal tersebut tidak disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan apa yang manusia ketahui hanyalah sebatas apa yang disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Manusia hanya wajib meyakini dalam batasan itu. Ketika manusia bebas untuk menggambarkan Allah menggunakan logikanya yang terbatas, pastilah akan menyandarkan sifat makhluk kepada Allah, padahal itu hal yang dilarang.

Sebagai contoh, kaum nasrani menggambarkan Tuhan mereka dalam bentuk manusia di dalam gambar dan juga patung. Karena mereka menganggap bahwa Tuhan memungkinkan untuk berbentuk manusia, maka tidak masalah bagi mereka untuk menganggap Jesus sebagai Tuhan.

Keempat, kita dilarang untuk menyandarkan sifat Allah kepada makhluk. Sebagai contoh, dalam injil perjanjian baru, Paul mengambil sosok Melchizedek, Raja Salem, dari Taurat (Genesis 14:18-20) dan memberi Melchizedek dan Jesus sifat Tuhan yang kekal:

Melchizedek, Raja Salem, hamba Tuhan yang maha tinggi, bertemu Ibrahim setelah peristiwa penyembelihan raja dan memberkatinya, dan untuk Ibrahim diberikannya sepersepuluh dari segalanya. Melchizedek, sesuai namanya, raja kebenaran, dan dia juga Raja Salem, yaitu raja kedamaian. Dia tidak memiliki Ayah dan Ibu, dan tidak memiliki awal dan akhir kehidupan, dan menyerupai anak Tuhan karena akan hidup selamanya” [5]

Demikian pula Jesus tidak mengagungkan dirinya sebagai hamba tertinggi, tapi dinobatkan oleh Allah yang mengatakan “engkaulah Anakku, hari ini telah kuanugerahkan kepadamu” atau pada tempat lain “kamu adalah hamba abadi, sebagaimana Melchizedek” [6].

Selain itu, hampir semua sekte Syi’ah (kecuali Zaidiyah di Yaman) memberikan sifat ma’shum (tebebas dari semua kesalahan) kepada “Imam” mereka [7], pengetahuan akan masa lampau, mengetahui masa depan, melihat hal ghoib, merubah takdir [8], dan dapat mengendalikan penciptaan [9]. Dalam hal ini tentu saja mereka menyekutukan Allah dengan “Imam-Imam” mereka, karena meyakini ada yang dapat mencipta selain Allah.

Kelima, dalam menyikapi nama Allah, kita dilarang memberi nama Allah kepada makhluk kecuali ditambahi dengan awalan ‘Abdul yang berarti “hamba”. Walaupun dalam hal ini terdapat perkecualian dalam beberapa nama seperti Ra’uf  atau Rahim karena Allah terkadang menyebutkan nama tersebut tanpa bentuk Al untuk ditujukan kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam:

قَدۡ جَآءَڪُمۡ رَسُولٌ۬ مِّنۡ أَنفُسِڪُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡڪُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٌ۬ رَّحِيمٌ۬

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, penderitaanmu terasa berat olehnya, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

Namun nama Ar-Ra’uf (yang paling berbelas kasih) dan Ar-Rahim (yang paling penyayang) hanya dapat disandarkan kepada makhluk jika diberi tambahan ‘Abdul seperti pada ‘Abdur-Ra’uf atau ‘Abdur-Rahim, karena bentuk kesempurnaan “yang paling” hanya dapat disandarkan kepada Allah. Selain itu, penambahan ‘Abdul kepada sesuatu selain nama Allah juga tidak diperbolehkan seperti ‘Abdur-Rosul (Hamba Rosul), ‘Abdun-Nabi (Hamba Nabi), dan ‘Abdul-Husein (Hamba Husein). Karena kita dilarang untuk menghambakan sesuatu selain kepada Allah. Karena itu Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam melarang muslim untuk menyebut budaknya sebagai ‘abdi (hambaku) dan juga amati (hamba perempuanku) [10].

Catatan kaki:

  1. Genesis 2:2 “dan pada hari ke tujuh, Tuhan menyelesaikan pekerjaan-Nya, dan Dia beristirahat pada hari ke tujuh karena pekerjaan-Nya telah selesai” (Holy Bible, Revised Standard Version. Nelson. 1951. p.2)
  2. Allah menyebutkan dalam surat Al-Baqarah 255 “Allah tidak lelah dan juga tidak tidur…”
  3. Exodus 32:14, “dan Tuhan menyesali pikiran buruk-Nya yang direncakan kepada para manusia” (Holy Bible, Revised Standard Version)
  4. Allah menjelaskan secara jelas dalam Al-Isra’ ayat 85, “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakan (kepada mereka) bahwa ruh (ada) dalam perintah Allah
  5. Hebrews, 7:1-3 (Holy Bible, Revised Standard Version)
  6. Hebrews 5:5-6 (Holy Bible, Revised Standard Version)
  7. Muhammad Rida al-Muzaffar menyebutkan dalam bukunya Faith of Shi’a Islam: “kami meyakin bahwa seperti para Nabi, para Imam juga terbebas dari kesalahan, dan tidak dapat berbuat kesalahan baik lahir maupun batin, dari lahir hingga kematian, baik disengaja atau tidak disengaja. Karena para Imam adalah penjaga Islam sehingga Islam selalu menjaga mereka” lihat juga buku Islam (Teheran: A Group of muslim Brothers, 1973)
  8. Al Muzaffar kemudian mengatakan “kami meyakini bahwa kekuatan para Imam untuk mendapat inspirasi telah mencapai tingkatan tertinggi yang sempurna, dan itu merupakan kekuatan ilahiah. Karena itu, para Imam dapat mengetahui segala informasi tentang apapun, di manapun, dan kapanpun. Dan mereka dapaat mengetahui maknanya secara ilahiah, dan kekuatan itu didapatkan tanpa metodologi yang logis ataupun dari bimbingan seorang guru
  9. Al Khomeini mengatakan: “sungguh para Imam memiliki kedudukan yang bermartabat, tingkatan yang tinggi, dan sebuah kekalifahan yang tinggi, dan juga dapat menguasai seluruh atom penciptaan” (Ayatullah Musavi al-Khomeini, al-Hukuumah al-Islamiyyah, Beirut: at-Talee’ah Press, Arabic ed., 1979, p.52)
  10. Sunan Abi Dawud, no 4957.

One thought on “1b Tauhid Asma’ dan Sifat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s