1a Tauhid ar-Rububiyah

Saduran ini bersumber dari The Fundamentals of Tawheed karangan Dr. Bilal Philips, bab 1.

Kategori ini berdasarkan konsep fundamenal bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta’ala bersendirian dalam menciptakan segala sesuatu dari kondisi nihil. Dia menjaga dan memelihara ciptaannya tanpa memerlukan segala sesuatupun dari ciptaannya; Dialah satu-satunya penguasa seluruh semesta alam dan isinya tanpa ada sesuatupun yang bisa menggugat kekuasaannya. Istilah dalam Bahasa Arab untuk menjelaskan sifat mencipta dan menjaga ini disebut Rububiyah yang berasal dari kata Rabb (Tuhan). Berdasarkan kategori ini, Allah adalah satu-satunya kekuatan yang ada, dan Dia juga yang memberikan segala sesuatu kekuatan untuk bergerak dan berubah. Tidak ada penciptaan kecuali yang Dia izinkan untuk terjadi. Untuk pengakuan akan hal ini, Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam sering mengucapkan kalimat penetapan: “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” (Tidak ada daya dan upaya kecuali berdasarkan kehendak Allah).

Dasar dari konsep Rububiyah dapat kita temui di banyak ayat Al-Qur’an. Sebagai contoh, Allah berfirman:

اللَّـهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dialah zat di mana segala sesuatu bergantung kepadanya” (Az-Zumar 62)

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu“ (As-Shaffat 96)

…وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَـٰكِنَّ اللَّـهَ رَمَىٰ…

…dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar…” (Al-Anfal 17) [1]

…مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّـهِ

Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah…” (At-Taghabun 11)

Konsep ini juga dijelaskan lebih jauh oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam:

Ketahuilah (yakinilah) bahwa umat manusia seandainya bersekongkol untuk memberimu suatu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat memberimu manfaat melainkan dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan untukmu, dan seandainya mereka bersekongkol untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu selain dengan suatu hal yang telah Allah tuliskan atasmu. ” [2]

Karena itu, apa yang diklaim oleh manusia sebagai nasib baik dan nasib buruk sebenarnya adalah takdir yang telah ditentukan oleh Allah sebagai ujian dalam hidup. Semua kejadian yang terjadi hanyalah mengikuti apa yang telah ditentukan oleh Allah.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (At-Taghabun 14)

Hal ini menunjukkan bahwa dalam hal yang membahagiakan dalam hidup, terkandung sebuah ujian yang serius untuk menguji keimanan kepada Allah. Dan begitu pula sebaliknya, dalam kejadian yang menyusahkan dalam hidup juga terkandung ujian, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah 155)

Terkadang pola dari cobaan tersebut dapat diamati selayaknya hubungan sebab dan akibat, dan terkadang pula pola tersebut tidak dapat diamati, selayaknya terkadang niat buruk dapat menghasilkan sesuatu yang baik, dan niat yang baik justru menghasilkan sesuatu yang buruk. Allah menjelaskan hikmah dibalik semua kejadian ini dan hikmah tersebut tidak dapat dijelaskan oleh manusia karena keterbatasan pengetahuan mereka:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu me-nyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah 216)

Terkadang kejadian yang buruk dalam hidup manusia justru menjadi hal yang terbaik bagi yang bersangkutan, dan begitu pula sebaliknya sesuatu yang terlihat baik bagi hidup manusia justru membawa kesengsaraan. Sebagai konsekuensinya, sebenarnya kehidupan manusia terbatas pada pilihan-pilihan yang ada dalam hidup, dan hasil yang terjadi bukan hasil aktual dari pilihannya, namun merupakan apa yang telah ditentukan oleh Allah.

Dengan kata lain, “Manusia merencanakan dan Allah yang menentukan”. Dan “takdir baik” dan “takdir buruk” semuanya dari Allah. Dan takdir baik tidak bisa dipengaruhi oleh hal-hal seperti jimat, kaki kelinci, daun semanggi empat kelopak, angka keberuntungan, zodiak, dan lain sebagainya. Demikian pula takdir baik tidak bisa ditentukan oleh hal-hal semacam Jumat ke-13, cermin pecah, kucing hitam, dan lain sebagainya. Bahkan pada kenyataannya, percaya pada hal-hal seperti jimat atau pertanda semacam itu merupakan dosa syirik terhadap tauhid.

‘Uqbah Radhiyallaahu’anhu, salah seorang sahabat Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, meriwayatkan:

Bahwasannya telah datang kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sepuluh orang (untuk melakukan bai’at), maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam membai’at sembilan orang dan tidak membai’at satu orang. Maka mereka berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau membai’at sembilan dan meninggalkan satu orang ini?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya dia mengenakan jimat.” Maka orang itu memasukkan tangannya dan memotong jimat tersebut, barulah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam membai’atnya dan beliau bersabda, “Barangsiapa yang mengenakan jimat maka dia telah menyekutukan Allah” [3]

Penggunaan Al-Qur’an sebagai jimat dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an yang dikalungkan atau dipasang di tembok untuk menjauhkan kesialan dan mendatangkan keberuntungan, hal ini hanya memiliki sedikit perbedaan dengan apa yang dilakukan oleh kaum pagan. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam dan juga oleh para sahabat Radhiyallaahu’anhum. Dan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.

Sedangkan Surat Al-Falaq dan An-Nas memang dapat digunakan untuk ruqyah ataupun mencabut sihir dari seseorang, namun Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara yang benar untuk melakukannya:

Dalam suatu kejadian di mana sihir terdapat padanya, beliau meminta Ali bin Abi Thalib untuk membaca dua surat (Al-Falaq dan An-Nas) ayat demi ayat, dan saat beliau sakit beliau biasa membaca untuk dirinya sendiri” [5]

Beliau tidak menulis ayat-ayat tersebut kemudian dikalungkan, atau digelangkan ke tangan, dan juga tidak meminta orang lain untuk melakukan hal tersebut.

Catatan kaki:

  1. Kejadian ini berkaitan dengan kejadian menakjubkan di mana Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam mengumpulkan debu di tangan beliau dan melemparkannya ke musuh (di awal Perang Badar). Allah membuat debu-debu tersebut beterbangan ke wajah musuh walaupun jaraknya sangat jauh.
  2. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan dikumpulkan oleh Tirmidzi (lihat Arbain An-Nawawi)
  3. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad
  4. Diriwayatkan melalui Aisyah dan terdapat dalam Shahih Bukhari nomor 861 dan juga Shahih Muslim nomor 4266 dan 4267. Dan juga diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud.
  5. Diriwayatkan melalui Aisyah dan terdapat dalam Shahih Bukhari nomor 535 dan juga Shahih muslim 5439-5440.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s