Tidak Perlunya Mengangkat Kaki ke Wastafel saat Wudhu

Alhamdulillaah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in

Saat kita bepergian ke suatu tempat di mana tidak disediakan tempat khusus untuk berwudhu, maka salah satu alternatif wudhu yang tersedia adalah: wastafel. Dan terkadang sebagian dari kita masih perlu mengangkat kaki ke wastafel saat membasuh kaki. Dan terkadang pula, terjadi konflik karena hal tersebut.

Sekitar 7 tahun yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi negeri Thailand, yang notabene mayoritas penduduknya bukan muslim, bersama rombongan dari Indonesia. Pada saat acara tour wisata, kami mampir ke sebuah rumah makan. Di sana disediakan ruangan khusus bagi kami untuk sholat, namun tidak disediakan tempat khusus untuk berwudhu. Maka kami semua (termasuk saya) berwudhu di wastafel kamar kecil. Akhirnya terjadi pertengkaran yang cukup heboh antara para wisatawan dan pemilik rumah makan, karena akhirnya kamar kecil menjadi becek dan wastafel dianggap sebagai tempat untuk mencuci muka, bukan untuk kaki (dan dalam kepercayaan Thailand, muka memang memiliki “pangkat” yang tinggi, dan kaki memiliki “pangkat” yang rendah). 

Padahal Islam adalah agama yang mudah. Islam memiliki penerapan syariat yang memudahkan pada kondisi tertentu, salah satunya dalam berwudhu.

Sebagai contoh, terkadang kita menemui kondisi di mana ada sesuatu yang menutupi bagian tubuh kita yang sulit dilepas dan terkadang pula memang dibutuhkan untuk perlindungan. Seperti di kaki (khuff dan yang sejenis), kepala (surban dan yang sejenis), dan juga anggota tubuh yang lain (perban, gips, dan yang sejenis). Kita diizinkan untuk berwudhu dengan mengusap bagian luar dari penutup tersebut tanpa melepasnya. Hal ini merupakan kemudahan yang Allah ta’ala berikan kepada hambanya.

Dalam hal ini, diizinkannya mengusap khuff (sesuatu yang menutupi kaki sampai mata kaki) dan juga hal lain yang sejenis saat berwudhu, diriwayatkan dalam banyak hadits sahih dan mutawattir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal tersebut baik dalam keadaan mukim maupun safar.

Al-Hasan mengatakan bahwa “Saya diberitahu oleh tujuh puluh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau sering mengusap khuff saat berwudhu (menggunakan tangan yang basah)” [1]. Imam Nawawi mengatakan “Diizinkannya mengusap khuff diriwayatkan oleh begitu banyak sahabat”. Imam Ahmad juga mengatakan “Tidak ada sedikitpun keraguan di benakku mengenai sahnya mengusap khuff. Ada 40 hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan kebolehannya” [2]. Ibnul Mubarak juga mengatakan bahwa tidak ada perbedaan pendapat di antara para sahabat mengenai dibolehkannya mengusap khuff saat berwudhu [3]. Ibnul Mundzir juga mengatakan bahwa dibolehkannya mengusap khuff saat berwudhu telah menjadi ijma’ para sahabat [4].

Mengusap Khuff saat Berwudhu

Tindakan ini diperbolehkan dan dianggap lebih baik dibandingkan melepas khuff dan kemudian membasuh kaki, karena merupakan salah satu cara untuk menggunakan kemudahan dari Allah ta’ala dan juga menghidupkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengubah kondisi kaki beliau saat melakukan wudhu. Jika beliau menggunakan dua khuff, maka beliau mengusap di atasnya, dan jika beliau bertelanjang kaki, maka beliau langsung membasuh kakinya saat berwudhu.

Durasi Sahnya Mengusap Khuff tanpa Melepasnya

Orang yang bermukim, diperbolehkan untuk terus menggunakan khuff dan mengusap bagian atasnya saat berwudhu selama sehari semalam. Dan untuk orang yang safar (sampai pada masa di mana dia bisa melakukan qashar sholat) maka diizinkan untuk melakukan hal tersebut selama tiga hari dan tiga malam, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan durasi tiga hari (dimana seseorang dapat mengusap khuff) untuk orang yang safar dan sehari semalam untuk orang yang mukim [5]. Untuk kedua orang tersebut, periode diizinkannya mengusap khuff dimulai dari hadats pertama yang dialami setelah menggunakan khuff. Walaupun beberapa ulama berpendapat bahwa periodenya dimulai dari wudhu pertama setelah hadats (dalam kondisi mengenakan khuff).

Kondisi dimana Mengusap Khuff Diizinkan

  1. Dalam keadaan suci (dalam keadaan berwudhu) saat mengenakan khuff tersebut, sebagaimana yang disebutkan dalam Sahihain dan yang lainnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada seseorang yang ingin membantu beliau melepas khuff saat akan melakukan wudhu: “Biarkan karena aku telah mengenakannya setelah berwudhu” [6]. Telah diriwayatkan pula oleh Sofwan bin ‘Assal bahwa beliau berkata “Kami diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengusap khuff apabila kami mengenakan mereka dalam keadaan suci” [7]. Karena itu jelas bahwa syarat utama untuk mengusap khuff saat berwudhu adalah kita harus mengenakannya dalam keadaan suci.
  2. Khuff tersebut harus didapatkan dengan cara yang sah dan halal. Misal didapatkan dengan cara mencuri, atau terbuat dari sutra (untuk laki-laki) maka kita tidak diperkenankan untuk mengusapkhuff tersebut saat berwudhu, karena suatu amalan tidak akan sah dilakukan terhadap sesuatu yang tidak sah/halal.
  3. Khuff tersebut harus menutup rapat kaki sampai dengan mata kaki. Seseorang tidak dapat mengusap khuff apabila tidak sampai menutup rapat bagian kaki yang harus dibasuh saat berwudhu.

Karena kita diizinkan untuk mengusap khuff, maka kita juga diizinkan untuk mengusap berbagai macam penutup kaki, semacam kaos kaki yang terbuat dari wol atau sejenisnya, yang cukup tebal untuk menutup bagian kaki. Hal ini sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap khuff  saat mengenakan kaos kaki dan sepatu sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan lainnya, dan dinilai sahih oleh At-Tirmidzi [8].

Wilayah yang Harus Diusap

Bagian yang harus diusap adalah bagian atas dari khuff atau kaos kaki.

Cara Mengusap Khuff

Mengusap khuff (saat berwudhu) dengan cara mengusapkan jari-jari yang basah dari arah jari kaki ke bagian tungkai (ke belakang). Kaki kanan diusap dengan tangan kanan, dan kaki kiri diusap dengan tangan kiri. Jari-jari harus dibuka saat melakukannya, dan pengusapan cukup dilakukan sekali.

Menggunakan kemudahan ini, kita dapat berwudhu dengan mudah di wastafel tanpa memunculkan konflik saat kita bepergian ke tempat yang tidak tersedia tempat wudhu dan hanya tersedia wastafel. Kita cukup mengenakan kaos kaki sebelum bepergian dalam keadaan berwudhu. Dan dengan melakukan ini, kita juga ikut menghidupkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Wallaahul Waliyyut Taufiq

Jurong West, 19-6-2013

Sebagian besar tulisan ini merupakan rangkuman dari Al-Mulakhos Al-Fiqhi oleh Syaikh Soleh Al-Fauzan, Bab Mengusap Khuff

[1] Al-Ausat oleh Ibnul Mundzir [1/430, 433], Nazb Ar-Rayah oleh Az-Zaila’i [1/162], dan Al-I’lam bi Fawa’id Umdat Al-Ahkam oleh Ibnul Mulaqqin [1/615]

[2] Al-I’lam bi Fawa’id Umdat Al-Ahkam oleh Ibnul Mulaqqin [1/615]

[3] Al-Ausat oleh Ibnul Mundzir [1/434]

[4] Ibid

[5] HR Muslim (637) [2/167]

[6] HR Bukhari (206) [1/404] dan Muslim (630) [2/162]

[7] HR Ahmad (18011) [4/240]

[8] HR Ahmad (18167) [4/343], Abu Dawud (159) [1/85], Tirmidzi (99) [1/167] dan Ibnu Majah (559) [1/341]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s