Masalah Hisab dan Ru’yah

Alhamdulillaahirobbil ‘aalamiin.

Telah beberapa hari berlalu sejak ‘Idul Fithri. Hari yang sudah saya alami lebih dari dua puluh kali sejak lahir dengan berbagai macam perbedaan suasana. Secara bahasa, ‘Id ialah sesuatu yang kembali dan berulang-ulang. Sesuatu yang biasa datang dan kembali dari satu tempat atau waktu [1]. Ibnu Manzhur dalam Lisan al-Arab membawakan perkataan Ibu al-A’rabiy : “Hari Raya (‘Id) dinamakan ‘Id, karena hari itu selalu berulang setiap tahun dengan kegembiraan yang selalu baru” [2].

Namun entah mengapa, menurut perasaan saya, akhir-akhir ini unsur kegembiraan merayakan hari tersebut serasa berkurang. Setiap saat mendekati ‘Id (baik Adha maupun Fithri), ada sedikit unsur ketegangan. Sidang isbat yang diadakan MUI menjadi ajang tontonan dan juga sumber perdebatan yang tidak ada ujungnya. Di lain pihak, Muhammadiyah (yang menggunakan hisab) sudah menentukan ‘Id jauh sebelum sidang isbat. Terkadang ada sentilan sampai hujatan yang saling menyalahkan antara pendukung kedua pihak (hisab versus ru’yah).

Sehingga pada saat ‘Id (yang seolah-olah tampak wajar jika berbeda), kegembiraan sedikit berkurang karena ada rasa paling benar sendiri dan juga menyalahkan hari yang lain. Katakanlah, jika yang merayakan ‘Id pada hari A dan B itu jumlahnya fifty-fifty, maka kegembiraan merayakan pada hari A maupun B masing-masing hanya separuh dari jumlah A+B kan? Andai semua merayakan pada hari A, tentu kegembiraan ‘Id itu akan lebih terasa lagi.

Namun mungkin saya (dan juga kita semua) harus menerima keadaan ini. Karena kondisinya memang seperti ini.

Entah saya yang tidak mengamati, atau bagaimana. Namun saya merasa, pertentangan pada tahun ini semakin deras saja. Antara pro Hisab dan pro Ru’yah semakin gencar melancarkan serangan-serangan mereka untuk menunjukkan kebenaran pendapat masing-masing. Ada juga yang menyalahkan pendapat yang berlawanan dengan pendapat mereka. Kalau tahun-tahun sebelumnya (sekali lagi, ini hanya pengamatan saya saja) konflik selesai saat ‘Id selesai, tahun ini konflik tersebut masih berlanjut hingga hari ini!

Hal ini muncul karena adanya pendapat bahwa pada tanggal 12 September 2011 kemarin sudah terjadi bulan purnama, sehingga tanggal 1 Syawal bisa dihitung mundur dari tanggal tersebut. Tentu saja ini kembali menimbulkan pro dan kontra. ‘Id sudah berlalu, masih saja diungkit-ungkit. Bahkan kembali saling menyalahkan. Yang lebih parah, ada yang menyalahkan dan menghujat pemerintah. Padahal bukan seperti itu seharusnya adab kita kepada pemerintah..

Apa ini akan terjadi tiap tahun? Sungguh melelahkan sekali untuk mengikutinya bagi orang kecil seperti saya. Bahkan saya lihat ada beberapa yang menjadi “ahli dadakan” dan berbicara di luar bidang keilmuannya. Allaahul musta’an. Kalau saya pribadi, karena sangat awam, sehingga saya memilih untuk bertawaqquf saja. Sudah ada para ahli yang menjelaskannya dengan baik.

Walaupun jika ditanya pendapat mana yang saya pilih, saya akan menjawab bahwa saya meyakini wajibnya menentukan ‘Id dengan ru’yah, dan jika ada perbedaan pendapat maka kita wajib ikut pemerintah [3]. Ini sama sekali bukan perkara yang tiap orang atau kelompok bisa memutuskannya. Apalagi pemerintah kita menggunakan ru’yah untuk menentukannya.

Nah kemudian untuk apa ilmu hisab, apakah tidak digunakan begitu saja? Oh tentu tidak.. Silakan hisab digunakan untuk perkara lain selain penentuan ‘Id atau awal Ramadhan. Masih banyak sekali kegunaannya. Sejak kecil, saya adalah penggila astronomi. Saya sering bengong menatap bintang di langit saat kecil. Memiliki banyak peta langit. Mengoleksi berbagai macam ensiklopedia tentang astronomi. Ingin punya teropong bintang (yang sampai sekarang belum kesampaian). Mengoleksi berbagai macam perangkat lunak mengenai astronomi. Saat SMA sangat ingin masuk Astronomi ITB. Sehingga tentu saya sama sekali tidak membenci perhitungan-perhitungan itu.

Namun saya tentu akhirnya hanya bisa tersenyum. Tampaknya memang selama Muhammadiyah masih belum mengikuti ketetapan sidang itu, akan selalu ada potensi perbedaan ‘Id dan awal Ramadhan. Saya selama ini bertanya, apa ya dasar yang digunakan oleh Muhammadiyah? Walau saya sendiri sudah sering mendengar bahwa dasarnya adalah Quran Surat Yunus ayat 5. Qadarullah, saya dikirimi Ibu saya buku Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah cetakan tahun 2009. Dan malam ini tadi saya pas membaca halaman 293, pada Kitab Beberapa Masalah, poin nomor 11 (yang menjadi judul notes ini). Saya tuliskan terjemahan Indonesianya tanpa saya ubah sedikitpun (termasuk penebalannya).

11. Masalah Hisab dan Ru’yah

Berpuasa dan Id Fitrah itu dengan ru’yah dan tidak berhalangan dengan hisab. Menilik hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Berpuasalah karenamelihat tanggal dan berbukalah karena melihatnya. Maka bilamana tidak terlihat olehmu, maka sempurnakan bilangan bulan Sya’ban tiga puluh hari.” Dan firman Allah Ta’ala. “Dialah yang membuat matahari bersinar dan bulan bercahaya serta menentukan gugus manzazil-manazilnya agar kamu sekalian mengerti bilangan tahun dan hisab.” (Al-Quran surat Yunus ayat 5).

Apabila Ahli Hisab menetapkan bawa bulan belum tampak (tanggal) atau sudah wujud tetapi tidak kelihatan, padahal kenyataannya ada orang yang melihat pada malam itu juga;manakah yang mu’tabar.

Majelis tarjih memutuskan bahwa ru’yahlah yang mu’tabar.

Menilik hadits dari Abu Hurairah r.a. yang berkata bahwa Rasulullah bersabda; “Berpuasalah karena kamu melihat tanggal dan berbukalah (berlebaranlah) karena kamu melihat tanggal. Bila kamu tertutup oleh mendung, maka sempurnakan bilangan bulan Sya’ban 30 hari.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim) [4].

Saya jadi berpikir, kalau tidak salah tangkap, berarti Majelis tarjih Muhammadiyah-pun merajihkan ru’yah dalam penentuannya? Kemudian mengapa Muhammadiyah masih menggunakan hisab? Apakah akan tiba hari di mana kita bisa merayakan ‘Id bersama pada hari yang sama? Wallaahu A’lam.

Hanya curhat wong cilik di tengah malam sebelum kebali ke tulisan yang lain.

Referensi

  1. Bimbingan Berhari Raya Idul Fithri, Ustadz Abu Sulaiman Aris Sugiyantoro, http://almanhaj.or.id/content/3155/slash/0
  2. Idul Fithri dan Halal Bi Halal, Ustadz Ahmas Faiz Asifuddinhttp://almanhaj.or.id/content/3157/slash/0
  3. Berhari Raya dengan Siapa? Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, http://muslim.or.id/ramadhan/berhari-raya-dengan-siapa.html
  4. Himpunan Putusan Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Tarjih, Suara Muhammadiyah, Oktober 2009, Halaman 293-294.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s