Bersyukur (Hikmah Perjalanan Hidup Abdullah bin Umar Bani’mah)

Setiap orang akan mendapat ujian dalam kehidupannya. Suatu ketika manusia diuji dengan harta melimpah dan kenikmatan dunia yang sangat menggiurkan. Mereka pada umumnya cenderung lupa diri dan lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, ketika manusia diuji dengan musibah, pada umumnya hatinya mudah tergerak untuk memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kembali ke jalan Allah.

Walau begitu tidak sedikit manusia yang karena sangat kuatnya keinginan untuk melepaskan diri dari musibah, apalagi bila musibah itu sangat berat, tidak sabar menderita, lalu mengambil jalan pintas dengan cara meminta pertolongan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan masuklah mereka ke dunia syirik atau bahkan melepaskan akidah Islamnya.

Musibah adalah kasih sayang Allah, agar manusia tidak terus terjerumus ke jalan yang sesat, agar ingat kepada-Nya dan kembali ke jalan-Nya, agar memperoleh kebahagiaan sejati dunia sampai ke akhirat.

Abdullah bin Umar Bani’mah Hafidzahullah adalah seorang yang menyadari betapa besar kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau.

Pada saat mudanya, beliau adalah seorang pemuda yang gagah dan tegap. Beliau mendapatkan pendidikan yang baik pula dari orang tuanya. Namun di usia muda tersebut, beliau suka berkumpul dengan teman-temannya yang memilih pergaulan bebas. Untuk itu sampai hati beliau berbohong kepada ayahnya dengan sumpah palsu. Suatu ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala datangkan musibah berupa kecelakaan yang sangat tragis, patah lehernya sehingga menderita lumpuh total.

Sungguh tidak mudah bagi siapa pun untuk menghadapi situasi seperti ini. Adalah luar biasa seorang pemuda yang sedang senang-senangnya terlena dalam menikmati hidup bebas berhura-hura mengikuti teman-temannya nakal, tiba-tiba mengalami kecelakaan fatal dan langsung lumpuh total. Hidup terasa tiada berguna lagi.

Semenjak itu beliau menjadi manusia yang hidupnya bergantung kepada pertolongan orang lain. Dalam suasana kesedihan dan hampir putus asa karena kehilangan segala-galanya itu, hati dan pikiran pasti menjadi sangat kacau. Namun dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dengan bekal yang dibawanya dari pendidikan orang tuanya di masa kecilnya, perjuangan batin yang amat keras itu akhirnya sanggup membangun hati bersih dan berfikir jernih sehingga akhirnya berhasil menemukan kompas kehidupan baru yang lebih baik.

Walau dengen keterbatasan gerak mulailah dia menimba ilmu dengan lebih serius khususnya ilmu-ilmu agama. Kini beliau telah menjadi seorang da’i yang terhormat, dan nasihat-nasihatnya sangat diperlukan masyarakat. Bila beliau berdakwah, dengan pemahaman dan penghayatan akan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sangat mendalam disertai tutur kata yang lembut, maka siapa saja yang mendengar ajaran-ajaran Islam dan nasihat yang disampaikannya sangat mudah tersentuh hatinya. Abdullah bin Umar bin Abdullah Bani’mah telah menjadi da’i terkenal dan pendakwah yang hebat sehingga diterima di berbagai Negara.

Begitulah pentingnya kasih sayang dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan pentingnya pendidikan yang baik dari orang tua yang akan sangat membekas pada diri anak dan akan terus dibawa sepanjang hayatnya.

Dan sebagai pengingat bagi kita yang masih memiliki tubuh sempurna, baca baik-baik tiga harapan yang beliau inginkan:

  1. Aku berharap agar bisa sujud menempelkan dahi ke bumi. Meskipun aku lumpuh, aku tetap menjalankan shalat lima waktu sambil berbaring. Saat sujud, aku sujud sambil berbaring. Di hati kecil ini ada perasaan takut jika aku termasuk orang-orang yang tidak mendapat rahmat Allah pada hari kiamat. Aku takut kepada firman Allah: “(Ingatlah) pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka diseru untuk bersujud, maka mereka tidak mampu.” (Al-Qalam: 42)
  2. Aku berharap bisa membalikkan halaman mushaf Al-Qur’an dengan tanganku saat membaca Al-Qur’an. Apakah ada seseorang yang sehari-harinya selalu berpikir agar dia dapat membuka mushaf dan membalik-balikkan halamannya? Aku kira tidak ada seorangpun yang memiliki tangan yang sehat bepikir demikian. Wahai saudaraku, renungkanlah hal ini, karena sesungguhnya aku sangat berharap agar aku dapat membuka mushaf dan membolak-balikkan halamannya.
  3. Wahai saudaraku, ini adalah harapan yang membuat hatiku selalu teriris. Tatkala hari Ied tiba, atau pada saat kami sedang bergembira, selalu terbayang dalam benakku bahwa aku masuk ke dalam rumahku lalu aku memeluk Ibuku. Dapatkah kalian bayangkan harapanku ini? Namun aku tidak dapat melakukannya sekarang. Apbila datang hari Ied atau hari gembira lainnya, Ibuku hanya duduk termenung di sampingku seolah-olah ada yang hilang dari hatinya dan akupun merasakan demikian. Aku tidak sedang mengeluh, tapi aku ingin Anda merasakan nikmatnya mencium tangan Ibumu dan memeluknya. Ibumu tentu akan gembira.

Subhanallah. Adakah kita telah merenungkan hal ini? Ketiga hal yang disebutkan di atas barangkali adalah tiga hal yang tidak sulit untuk kita lakukan saat ini. Namun berapa dari kita yang enggan melakukannya? Sesungguhnya manusia mudah untuk lalai di tengah kesehatannya. Namun saat kita kehilangan semuanya, maka kita akan menyadari betapa berharganya semua hal tersebut di atas.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kepada kita organ-organ tubuh untuk menerima ilmu dan beramal, seperti hati, telinga, mata, dan anggota tubuh lainnya sebagai suatu nikmat dan karunia dari-Nya. Barangsiapa yang menggunakan nikmat-nikmat tersebut untuk ketaatan kepada-Nya, maka ia telah bersyukur atas nikmat yang diterimanya. Namun barangsiapa yang menggunakan nikmat-nikmat tersebut untuk kepuasan pribadi dan syahwatnya, maka ia menjadi orang yang merugi ketika kelak ditanya akan segala nikmatnya.

Semoga kisah kehidupan beliau memotivasi kita semua agar selalu baik dan taat kepada kedua orang tua, dan dalam pergaulan harus pandai-pandai memilih pergaulan yang baik agar tidak terjerumus ke jalan yang sesat. Apalagi masa remaja adalah masa yang paling rentan bagi manusia dalam pertumbuhannya. Semoga kita semua termasuk dalam golongan yang bisa menjaga diri dan mendidik anak-anak kita dengan baik.

Musibah adalah kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka setiap musibah seharusnya disikapi dengan senantiasa husnudhan kepada-Nya. Karena Allah Maha Baik tidak mungkin merugikan hambanya. Dengan husnudhan dan bergobat dengan sesungguhnya maka insya Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menurunkan ampunan, rahmat, dan hidayah-Nya.

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu keletihan dan penyakit (yang terus menimpa), kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya (HR. Bukhari no. 5641)

(Disadur secara bebas dari Buku “Saat Hidayah Menyapa” karangan Fariq Gasim Anuz cetakan Daun Publishing)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s