Abu Bakar memang Ash-Shiddiq (Hikmah Perjanjian Hudaibiyah)

Di kota Madinah pada tahun keenam Hijriyyah, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bermimpi bahwa beliau bersama para sahabat radliyallaahu ‘anhum melaksanakan manasik, sebagian di antara mereka ada yang mencukur rambut dan sebagiannya ada yang mengguntingnya saja. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala:

لَّقَدۡ صَدَقَ ٱللَّهُ رَسُولَهُ ٱلرُّءۡيَا بِٱلۡحَقِّ‌ۖ لَتَدۡخُلُنَّ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ إِن شَآءَ ٱللَّهُ ءَامِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمۡ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ‌ۖ

فَعَلِمَ مَا لَمۡ تَعۡلَمُواْ فَجَعَلَ مِن دُونِ ذَٲلِكَ فَتۡحً۬ا قَرِيبًا  ٢٧

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. (Al Fath :27)

Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada para sahabatnya radliyallaahu ‘anhum bahwa mereka akan berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan umroh. Para sahabat radliyallaahu ‘anhum sangat bersukacita karena mereka sudah lama terusir dari kota Mekkah dan sudah lama tidak thowaf mengelilingi Ka’bah Baitullah. Namun ternyata setelah perjalanan panjang yang sangat melelahkan, menjelang masuk kota Mekkah, tepatnya di Hudaibiyah, mereka dicegah orang-orang musyrik Quraisy untuk tidak melaksanakan umroh tahun ini, dan akhirnya terjadilah perjanjian damai antara Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan kaum musyrikin yang isinya adalah:

  1. Kaum muslimin tidak melaksanakan umroh tahun ini, tapi tahun depan.
  2. Gencatan senjata selama sepuluh tahun.
  3. Kalau ada orang kafir yang datang ke kota Madinah, harus dikembalikan ke Mekkah walaupun sudah masuk Islam, namun jika orang Islam dari kota Madinah ke kota Mekkah tidak wajib dikembalikan (Lihat al-Fushul Fi Sirotir Rasul oleh al-Hafizh Ibnu Katsir hal. 160)

Melihat isi perjanjian yang sepertinya berat sebelah ini, maka Umar bin Khattab radliyallaahu ‘anhu datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam seraya

  • (Umar radliyallaahu ‘anhu) berkata: “Bukankah engkau benar-benar Nabi Allah?
  • Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ya.
  • Umar radliyallaahu ‘anhu berkata : “Bukankah kita di atas sebuah kebenaran sedangkan musuh kita pada sebuah kebatilan?
  • Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ya.
  • Umar radliyallaahu ‘anhu bertanya lagi : “Kalau begitu, mengapa kita merendahkan agama kita?
  • Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Sesungguhnya saya adalah utusan Allah dan saya tidak akan bermaksiat kepada-Nya dan Dialah yang akan menolongku.
  • Umar radliyallaahu ‘anhu bertanya lagi : “Bukankah engkau berkata bahwa kita akan datang ke Baitullah dan melakukan thowaf di sekelilingnya?
  • Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ya, tapi apakah saya mengabarkan kepadamu bahwa kita akan datang ke Baitullah tahun ini?
  • Maka Umar radliyallaahu ‘anhu menjawab: “Tidak.”
  • Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya engkau akan datang dan melakukan thowaf di sekelilingnya.

Maka Umar radliyallaahu ‘anhu pun datang kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radliyallaahu ‘anhu lalu

  • (Umar radliyallaahu ‘anhu) bertanya: “Wahai Abu Bakar, bukankah beliau itu benar-benar Rasulullah?
  • Beliau (Abu Bakar radliyallaahu ‘anhu) menjawab: “Ya.”
  • Umar radliyallaahu ‘anhu berkata : “Bukankah kita berada pada kebenaran sedangkan musuh kita pada sebuah kebatilan?
  • Abu Bakar radliyallaahu ‘anhu menjawab: “Ya, memang.
  • Umar radliyallaahu ‘anhu bertanya lagi : “Kalau begitu, mengapa kita merendahkan agama kita?
  • Abu Bakar radliyallaahu ‘anhu menjawab: “Sesungguhnya beliau adalah utusan Allah dan saya tidak akan bermaksiat kepada-Nya dan Dialah yang akan menolongnya.
  • Umar radliyallaahu ‘anhu bertanya lagi : “Bukankah beliau berkata bahwa kita akan datang ke Baitullah dan melakukan thowaf di sekelilingnya?
  • Abu Bakar radliyallaahu ‘anhu menjawab: “Ya, tapi apakah beliau mengabarkan kepadamu bahwa kita akan datang ke Baitullah tahun ini?
  • Maka Umar radliyallaahu ‘anhu menjawab: “Tidak.
  • Lalu Abu Bakar radliyallaahu ‘anhu bersabda: “Sesungguhnya engkau akan datang dan melakukan thowaf di sekelilingnya.

Setelah selesai urusan penulisan perjanjian Hudaibiyah, maka setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabatnya radliyallaahu ‘anhum :”Bangun dan sembelihlah binatang lalu cukurlah rambut kalian.” Namun ternyata tidak ada satu sahabat pun yang bergerak, sampai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengulangi perintahnya tiga kali, akan tetapi tetap tidak ada seorangpun yang bergerak. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui Ummu Salamah radliyallaahu ‘anha dan menceritakan kejadian tersebut.

Maka Ummul Mu’minin Ummu Salamah radliyallaahu ‘anha berkata: “Wahai Rasulullah, apakah engkau ingin mereka melakukana? Keluarlah, dan jangan bicara pada seorang pun sampai engkau menyembelih binatangmu, lalu engkau mencukur rambutmu.”

Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun keluar dan tidak bicara pada seorangpun sampai menyembelih binatang dan memanggil tukang cukur beliau lalu mencukur rambutnya.

Tatkala para sahabat radliyallaahu ‘anhum melihat kejadian itu, maka mereka semua baru bergerak untuk menyembelih binatang mereka dan sebagian mereka mencukur yang lain sehingga hampir saja mereka saling membunuh sesamanya karena perasaan gundah yang menyelimuti mereka.

(Lihat kisah ini secara lengkap pada Shahih Bukhori: 2731, 2732, Muslim: 1785, Ahmad 4/325, Siroh Ibnu Hisyam 3/439-440. as-Siroh an-Nabawiyah Fi Dhou’i Mashodir Ashliyah DR. Mahdi Rizqulloh Ahmad hal. 490-492)

Betapa mulianya kedudukan Abu Bakar Ash-Shiddiq radliyallaahu ‘anhu, yang selalu membenarkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan lapang maupun sempit.

(Hadits dikutip dengan sedikit perubahan tata ketik dari Buku “Matahari Mengelilingi Bumi” karangan Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, Edisi Revisi, cetakan Pustaka Al Furqon halaman 41-44)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s