Tafkhim dan Tarqiq

Alhamdulillaah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in

Tafkhim (تَفْخِيْمُ) dan Tarqiq (تَرْقِيْقٌ) merupakan salah satu pembahasan dalam tajwid. Tafkhim, juga dikenal dengan mufakhkhamah (مُفَخَّمَةٌ), memiliki makna “menebalkan”, sehingga huruf-huruf tersebut dibaca tebal dengan menjorokkan bibir ke depan. Sedangkan Tarqiq, juga dikenal dengan muraqqaqah (مُرَقَّقَةٌ), memiliki makna “menipiskan”, sehingga huruf-huruf tersebut dibaca tipis dengan dengan memundurkan bibir seperti tersenyum.

Secara umum, berkaitan dengan pembahasan ini, huruf hijaiyah dapat dibagi menjadi tiga kelompok:

  1. Huruf yang selalu dibaca dengan tafkhim, yaitu huruf-huruf isti’laa’ (terangkatnya lidah ke langit-langit saat membaca huruf-huruf tersebut), yaitu  خ ص ض غ ط ق ظ.
  2. Huruf yang selalu dibaca dengan tarqiq, yaitu huruf-huruf istifaal (terhamparnya lidah di dasar mulut saat membaca huruf-huruf tersebut, dan merupakan huruf-huruf selain isti’laa’) selain ا ل ر, yaitu ث ب ت ع ز م ن ي ج و د ح  ف ه ء ذ س  ش ك.
  3. Huruf yang pada kondisi tertentu dibaca tafkhim, dan pada kondisi yang lain dibaca tarqiq, yaitu huruf ا ل ر.

Tingkatan pada Bacaan Tafkhim

Bacaan tafkhim, sebagai bacaan yang harus dibaca tebal, memiliki tingkatan ketebalan dalam membacanya.

Pertama, pembagian ketebalan tersebut berdasarkan hurufnya. Walaupun seluruh huruf-huruf isti’laa’ dibaca secara tebal, namun tiap huruf memiliki tingkat ketebalan yang berbeda. Jika huruf-huruf isti’laa’  diurutkan dari yang kurang tebal ke paling tebal dari kiri ke kanan, maka dapat diurutkan menjadi:

ط  ض  ص   ظ   ق  غ  خ

Sehingga huruf yang paling tebal adalah ط, dan huruf ini merupakan huruf yang paling kuat dalam huruf hijaiyah dan paling banyak memiliki sifat huruf.

Kedua, pembagian ketebalan berdasarkan kondisi huruf dalam kata. Menurut Imam Al-Jazari, pembagian tingkatan bacaan ini dapat dibagi menjadi 5, yaitu (Pembagian ini diurutkan dari yang paling tebal):

Tingkat 1: Huruf-huruf tafkhim yang mendapat fathah dan diikuti dengan alif. Contohnya: طَابَ, ضاقَ, dan غَائِبِين.

Tingkat 2: Huruf-huruf tafkhim yang mendapat fathah tanpa diikuti dengan alif. Contohnya: خَلَقَ, غَفر, dan صَدَقَ.

Tingkat 3: Huruf-huruf tafkhim yang mendapat dhommah. Contohnya: قُتِلَ, ضُرِبَتْ, dan طُبِعَ.

Tingkat 4: Huruf-huruf tafkhim yang mendapat sukun. Kondisi ini masih dibagi menjadi 3, yaitu tergantung huruf yang mendahului huruf tersebut.

  • Jika huruf yang mendahuluinya memiliki fathah, maka kekuatannya akan sama dengan yang tingkat 2 dalam pembahasan ini. Contohnya: يَطْبَعُ, أَصْبَرَهُمْ, dan يَقْتُلُ.
  • Jika huruf yang mendahuluinya memiliki dhommah, maka kekuatannya akan sama dengan yang tingkat 3 dalam pembahasan ini. Contohnya: يُطْعِمُونَ, يُصْحَبُونَ, dan تُغْنِي.
  • Jika huruf yang mendahuluinya memiliki kasrah, maka kekuatannya akan sama dengan yang tingkat 5 dalam pembahasan ini. Contohnya: إِطْعَامُ, مِصْرَ, dan إِخْوَانًا.  Sifat ini juga berlaku untuk huruf غ dan  خ yang memilikisukun, dan didahului oleh ي sakinah, seperti pada شَيْخٌ dan زَيْغٌ. Perkecualian dalam kasus ini adalah jika خ yang memiliki sukun didahului oleh kasrah, dan kemudian diikuti oleh ر yang tebal. Dalam kasus ini, huruf خ tidak diturunkan menjadi tingkat 5, namun ditingkatkan setara dengan ketebalan ر. Contohnya dalam bacaan إِخْرَاجًا.

Tingkat 5: Huruf-huruf tafkhim yang mendapat kasrah. Contohnya: طِبَاقًا, صِرَاطًا, dan ضِرَارًا.

Perubahan Sifat pada huruf ل, ا, dan ر

Huruf  ل, ا, dan ر terkadang dapat dibaca tafkhim atau dibaca tarqiq tergantung pada kondisinya.

Huruf ا (Alif)

Huruf alif yang dimaksud dapat dibaca tafkhim atau tarqiq adalah huruf alif yang ada pada madd.

Huruf alif dibaca tafkhim jika huruf pendahulunya juga tebal. Sebagai contoh: ضَاقَ, طَال, dan قَالَ.

Huruf alif dibaca tarqiq jika huruf pendahulunya juga tipis. Sebagai contoh: جَاءَ dan  شَاءَ.

Sehingga secara sederhana, huruf alif akan mengikuti sifat dari huruf pendahulunya. Jika huruf pendahulunya berat, maka akan dibaca tebal, dan jika huruf pendahulunya ringan, maka akan dibaca tipis.

Huruf ل (Lam)

Huruf lam yang dapat dibaca tafkhim atau tarqiq  adalah huruf lam pada اللَّـه dan اللَّهُم.

Huruf lam dibaca tafkhim jika didahului huruf yang memiliki fathah atau dhommah. Contohnya: شَهِدَ اللهُ dan رَسُولُ اللهِ.

Huruf lam dibaca tarqiq jika didahului huruf yang memiliki kasrah. Contohnya بِسْمِ اللَّهِ dan قُلِ اللَّهُمَّ.

Huruf  ر (Ra’)

Huruf ra’ dapat dibaca tafkhim maupun tarqiq tergantung pada kondisinya. Secara umum dapat dibagi menjadi:

  1. Jika huruf ra’ memiliki harakah baik ketika berhenti maupun tidak di dalam sebuah kata.
  2. Jika huruf ra’ memiliki sukun baik ketika berhenti maupun tidak di dalam sebuah kata.
  3. Jika huruf ra’ memiliki sukun ketika berhenti, dan memiliki harakah jika kita melanjutkannya.

Pertama, jika huruf ra’ memiliki harakah baik ketika berhenti maupun tidak di dalam sebuah kata. Kondisi ini hanya mungkin terjadi di permulaan atau di tengah sebuah kata.

Dalam kondisi ini, huruf ra’ dibaca tafkhim jika memiliki fathah ataupun dhommah. Sebagai contoh: الْخَيْرَات, رَأَوْا, dan ظَهِيرًا. Kemudian huruf ra’ dibaca tarqiq jika memiliki kasrah. Sebagai contoh: رِجَالٌ, رِئَاءَ النَّاسِ, dan الصَّابِرِينَ.

Kedua, jika huruf ra’ memiliki sukun baik ketika berhenti maupun tidak di dalam sebuah kata. Kondisi ini memungkinkan untuk terjadi di tengah dan di akhir dari sebuah kata.

Kondisi yang pertama, jika rasukun terletak di tengah sebuah kata. Huruf ra‘ dibaca tarqiq jika dan hanya jika: 1) kasrah terdapat pada huruf sebelumnya, 2) kasrah tersebut merupakan bagian asli dari kata tersebut, 3)kasrah dan ra‘ berada dalam satu kata, dan 4) huruf setelah ra‘ tersebut bukan huruf isti’laa‘. Sehingga ke-empat syarat tersebut harus terpenuhi supaya huruf ra‘ dibaca tarqiq. Sebagai contoh: مِرْيَة, الْفِرْدَوْسِ, dan فِرْعون.

Jika salah satu dari empat kondisi tersebut tidak terpenuhi, maka huruf ra’ akan dibaca tafkhim. Contohnya: لَا تَرْفَعُوا (fathah sebelum ra’) dan مِرْصَادًا (ada huruf isti’laa’ setelah ra’).

Kondisi yang kedua, jika ra’ sukun terletak di akhir kata. Huruf ra‘ dibaca tafkhim jika huruf pendahulunya memiliki fathah dan dhommah. Contohnya: وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ dan فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ. Dan huruf ra‘ dibaca tarqiq jika huruf pendahulunya memiliki kasrah. Contohnya: وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ.

Ketiga, jika huruf ra’ memiliki sukun ketika berhenti, dan memiliki harakah jika kita melanjutkannya. Hal ini hanya mungkin terjadi jika huruf ra’ berada di akhir kata.

Huruf rasukun semacam ini dibaca tafkhim jika didahului oleh huruf yang memiliki fathah atau dhommah.Sebagai contoh: الْقَمَر dan الْقَدَرُ. Kondisi ini juga berlaku jika huruf ra’ sukun didahului oleh alif madd maupun wau madd. Sebagai contoh: إِنَّ الْأَبْرَارَ dan إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ.

Huruf ra’ sukun semaca ini dibaca tarqiq jika didahului huruf yang memiliki kasrah. Contohnya: قُدِر dan لِلذِّكْرِ. Kondisi ini juga berlakku jika huruf ra’ sukun didahului oleh ي sakinah. Sebagai contoh: نَذِيرٌ dan الْخَيْر.

Namun dalam permasalahan ini terkadang terjadi perselisihan pendapat di antara para ulama pada kondisi tertentu. Contohnya pada:

  • وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ dan فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ. Dalam kondisi tersebut, pendapat yang paling umum adalah dibaca tafkhim.
  • وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ dan وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ. Dalam kondisi tersebut, pendapat yang paling umum, kondisi ini dibacatarqiq 

Wallaahu waliyyut taufiq. 

Jurong, 15-6-2013

Merangkum dari Kuliah Tajwid 102 Ahmad Abdel-Wahab, Islamic Online University

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s